Thoughts

Passionately

The thing about me is, you never want to listen to me talking about something or someone that I love or hate so much.

Why?

Because I love and hate passionately.

One example.
I love MotoGP, I love motorcycle racing a lot.
But if I talk about MotoGP with a casual fan, or somebody that isn’t really into MotoGP, then I’d be the most boring creature in the whole universe.

It happens too when I fall in love with somebody.
I can talk about him the whooole time. So it’s not really good.

So it happens also when I hate somebody?

Oh yeah.
When I hate somebody, I can insult them the whole day, with cruelest words you’ve never ever heard.

So yeah.
It’s hard to be me.
But I’m the only one who can walk in my shoes.

Thoughts

‘From Nothing Comes A King’

Sebenernya, niat awal gue nonton King Arthur: Legend of The Sword ini adalah ingin menonton akting Charlie Hunnam, yang selama ini hanya gue tahu melalui film Pacific Rim dan serial TV super keren Sons of Anarchy.

Trailer pertama: Wah, kayanya keren.
Trailer kedua: Njir, udah pasti keren nih!

Sebenernya juga, gue ga terlalu memahami kisah King Arthur, walau sekilas-sekilas gue pernah mendengar namanya disebut oleh nyokap yang rutin membacakan dongeng saat gue masih kecil. Maka, beberapa hari sebelum nonton film ini, gue mencuri-curi waktu di kantor untuk membaca kisah King Arthur, yang ternyata… wew, banyak banget versinya, ga cuma kisahnya, melainkan filmnya juga.

Gue baca, baca dan baca, meyakinkan diri sendiri pasti gue kuat baca semuanya, karena gue penasaran kenapa begitu banyak orang yang tertarik pada kisahnya, sampe filmnya banyak banget. Tapi gue akhirnya nyerah, dan memutuskan lebih baik gue ga terlalu tahu banyak soal King Arthur demi berjaga-jaga ga ngomel andai ekspektasi gue berbeda dengan film garapan Guy Ritchie ini. Continue reading “‘From Nothing Comes A King’”

Thoughts

‘Perbedaan’

Suedih au ndelok negoro iki. Duhkah.

Orang yang mengaku dirinya ‘bermoral’, ‘beragama’ dan ‘ber-Tuhan’ mestinya bisa paham, sadar dan melek ya kalo ‘perbedaan’ itu sejatinya yang menciptakan juga Tuhan.

Orang yang berbeda itu mestinya kita rangkul, bukan justru disisihkan. Kalopun kamu menganggap menjadi ‘berbeda’ itu sebuah kesalahan, tetep aja orang itu harus kamu rangkul, bukan disisihkan. Tapi aku sih menganggap bahwa ‘berbeda’ itu ga selamanya, ga selalu merupakan ‘kesalahan’. Kadang, ‘perbedaan’ itu justru bisa jadi pemersatu.

Kalo kamu marah hanya karena orang lain berbeda, dan kemudian kamu berusaha memusnahkan mereka, itu sama kaya gini : Di kala anak-anak lain main gundu, anakmu justru lagi main pasir, disebarkan ke seluruh penjuru rumah, rumah jadi kotor. Continue reading “‘Perbedaan’”

Thoughts

‘Kamu Tak Bisa Memprediksinya’

Baca tweet ini tuh… entahlah.

Gue baru menyadari rasa itu tumbuh sekitar tanggal 23 Mei 2016. Ya, sekitaran itulah. Saat itu, gue emang butuh banget distraksi untuk melupakan perasaan lama gue kepada seseorang. Gue butuh distraksi, tapi bukan distraksi berupa perasaan, cinta, apalagi cowo lain. Gue butuh distraksi berupa hiburan, pergi berpetualang bareng temen-temen, atau yang lain. Pokonya hura-huralah. Dan bukan yang begini ini…

Tiga bulan pertama, gue benar-benar marah pada diri gue sendiri. Bertanya-tanya kenapa bisa gue punya perasaan sama dia; dia yang nyaris setahun gue kenal, tapi selama itu pula gue ga pernah inget namanya, ga pernah inget mukanya, ga pernah inget apapun soal dia, padahal ketemu tiap hari. Continue reading “‘Kamu Tak Bisa Memprediksinya’”

Thoughts

Kisah Sebuah Grup WhatsApp Keluarga

X : *kirim broadcast*

Me : *baca* *langsung googling mencari kebenaran dan penjelasan karena kesel grup ini isinya cuma broadcast-broadcast cheesy, entah sumbernya darimana, plus dibagi dengan asal copy paste* *ternyata isi broadcast menyesatkan* Mmm… menurut xxxxxxxxxx.id dan xxxxx.com sih ini beritanya ga bener. Badan XXX sendiri ‘kan udah menjelaskan. Mau kasih saran aja sih, kalo ada broadcast-broadcast begini mending kita cari tau dulu bener ato engganya, biar ga salah paham. Hehe.

X : Gini Kanya… yang menyangkut akidah sebaiknya langsung di-share ke minimal saudara untuk hati-hati sebagai penyelamatan awal. Selanjutnya dicari sumbernya yang benernya gimana. Tapi situasi media kita kan masih seperti ini kacau, mana hoax mana engga susah bedainnya. Mending kita main aman dulu. Gitu maksudnya. Jadi kalo Kanya udh punya info yang valid ya di-share, yakinkan dan infokan. Sip jadinya. Continue reading “Kisah Sebuah Grup WhatsApp Keluarga”

Thoughts

Ulang Tahun

Semakin dewasa, semakin pula aku membenci hari ulang tahunku. Aku tidak ingin orang tahu aku sedang berulang tahun, aku juga tak ingin mereka mengucapkan selamat. Aku tak ingin melakukan perayaan apapun.
Aku hanya ingin berdiam diri di rumah. Makan malam bersama ibuku, serta memakan sebatang cokelat dan semangkuk es krim vanilla yang kubeli untuk diriku sendiri.
Setelahnya aku akan berbaring di tempat tidur, membaca buku sampai rasa kantuk tiba.
Itu saja.
Itu saja yang kuingin kulakukan di hari ulang tahunku.
Peduli setan.
Thoughts

Orang Tak Perlu Tahu

Apapun agamamu, orang akan menghakimi.
Ketika kamu mengaku tak punya agama, orang juga akan menghakimi.
Begitu pula ketika kamu berkata semua agama adalah agamamu, orang juga tetap menghakimi.

Agama adalah apa yang ada di antara kamu dan apa yang kamu percayai.
Soal apa agama yang kamu anut, orang lain bisa memperdebatkannya.

Tapi apa yang kamu percayai, hanya kamu yang tahu, hanya lubuk hatimulah yang menyimpannya.
Kamu jujur atau bohong, tetap hatimu sendiri yang tahu jawabannya.
Orang tak perlu tahu.
Orang tak perlu menyuruhmu melakukan ini dan itu.
Orang tak berhak menghakimimu.

Thoughts

Ya ya ya…

Ya ya ya, kayanya kalo sama ini bocah segalanya memang terasa menyenangkan. Tapi perjalanan kami berdua sejatinya ga semulus dugaan orang. Ada beberapa pihak yang berusaha mengadu domba dan misahin kami.

Tapi kami berdua seterong dong, selalu ngatasin masalah bersama-sama. Jadi buat kamu (you know who you are) yang berusaha mengacaukan pertemanan kami, tenang aja. Suatu saat nanti kamu akan dapet balasannya. :)

Hope to see you again anytime soon, J.

Thoughts

Bye, Logan.

Setelah ribet ngatur jadwal, akhirnya nonton ‘Logan’ juga weekend kemaren. Mau nulis apa ya? Soalnya bingung apa yang kudu dibahas. Hahaha.
Perasaan setelah nonton ‘Logan’ ini pokonya sedih. Apalagi ini terakhir kalinya Hugh Jackman jadi Wolverine.

Sebenernya, franchise X-Men memang terkesan punya aura yang lebih ‘serius’ ketimbang franchise Avengers, tapi ‘Logan’ ini merupakan film X-Men yang menurut gue paling serius di antara ‘jenis’-nya. Memang ada beberapa joke yang dibikin agar penonton ga kelewat tegang, tapi film ini emang auranya rada beda. Continue reading “Bye, Logan.”

Thoughts

La La Laff

Phew, akhirnya nonton La La Land jugaaa. Setelah menunggu sejak awal Desember, gue baru bisa nonton semalem, karena eh karena jadwal tayangnya yang maju mundur.

Sebenernya, gue bukan salah satu orang yang baru tergoda nonton La La Land hanya setelah film ini menang banyak di Golden Globe. Gue bahkan udah tertarik nonton film ini jauuuhh sebelum orang rame membicarakannya. Saking sedikitnya yang ngobrolin film ini, gue jadi yakin ga ada temen yang mau gue ajak nonton. Ternyata, Gaby, Gita dan Yudi tertarik, jadi kita memutuskan untuk nonton bareng.

Sebelum nonton film ini, kami sempat ketar-ketir dan cemas filmnya tidak sebagus yang orang bicarakan di luar sana. Apalagi si Kempit yang gila film beberapa kali ngetweet bahwa banyak orang ‘walk out’ saat menonton La La Land. Mungkin gue yang paling waswas, karena gue memang ga terlalu ngefans sama film-film musikal.

Tapi saat masuk ke dalam bioskop, kami kaget ngeliat studio yang bener-bener penuh. Dan hanya dalam beberapa menit pertama film itu diputer, gue dan temen-temen bertanya-tanya apa yang sejatinya bikin orang-orang walk out, karena pada kenyataannya, film ini sangat memikat! Dan beneran, ga ada orang yang walk out sama sekali! Continue reading “La La Laff”