Splash

Hari Ini, Setahun Lalu

Hari ini, setahun lalu, aku mulai sadar aku jatuh hati padamu
Kala itu aku marah pada diriku sendiri
Karena aku tak mengenalmu
Karena aku tak tahu siapa kamu sejatinya
Karena kamu tadinya hanya bayangan belaka yang hidup di sekitarku, tak ku abai!
Aku tak punya alasan untuk mencintaimu
Tak ada alasan untuk takluk padamu!

Tapi… siapa tahu kamu memang bakal memiliki hatiku seperti hari ini?

Sayang kamu tak tahu
Kamu tak tahu apa yang sudah kamu curi—hati ini!

Sayang kamu tak tahu
Kamu tak tahu aku mencintaimu dalam diam
Hanya dalam jarak
Hanya dalam benak

Splash

Jumpa di Kedai Kopi

Lucu
Aku selalu mencari wajahmu di tengah keramaian,
berharap bertemu denganmu lagi dalam situasi tak terduga
Tapi aku juga sadar peluang pun aku tak punya

Lalu, saat kusudah nyaris putus asa dan yakin semua telah usai,
tak dinyana kamulah yang justru menemukanku di tengah lalu lalang orang

Kamu memanggil namaku
Aku berpaling pada suaramu
Melihat senyum dan wajah binarmu
Menangkap lambaian tanganmu

Tepat empat bulan berlalu—ya ampun, kamu benar-benar di hadapku!
Kupikir aku takkan pernah bisa lagi melihatmu

Kamu masih sama memesonanya bagiku
Kamu masih sama berkarismanya bagiku

Lucu, karena aku selalu berharap kita berjumpa di sebuah kedai kopi, dan begitulah yang terjadi

Semoga ini kesempatan keduaku
Aku tak mau mengulang salah yang sama
Aku ingin terus mengenalmu,
mengenalmu hingga nanti

Splash

Di Tengah Ramai

Tau ga? Sejak kamu pergi, aku jadi kaya orang bego.
Ini udah hampir dua bulan kita ga ketemu, dan bagiku rasanya selalu ada yang kurang, selalu ada yang hilang.

Setiap sudut ruangan ini selalu mengingatkan aku ke kamu.
Waktu kita saling diam padahal duduk bersisian saat nonton TV.
Waktu kita ga sengaja ketemu di dapur untuk bikin kopi.
Waktu kamu tiba-tiba duduk di belakangku dan dorong-dorong kursiku.
Waktu kita ga jelas ngobrolin film.
Waktu kita ngomongin konser musik.
Waktu kita sering berebut toilet.
Banyak deh. Mana konyol semua. Continue reading “Di Tengah Ramai”

Splash

Ranah Gersang

Di ranah gersang bertahun-tahun ini,
tak dinyana harapan menyeruak
Tak diduga datangnya

Bibit mengakar, akar membatang, batang mendaun, mulai rimbun
Bayang pun hadir, sejukkan dari terik mentari

Tak diduga datangnya pula,
badai datang mengamuk
Porak poranda sudah!

Hijau ikut terhanyut, berikut bayang dan sejuknya

Ranahku gersang kembali
Takkan kutanami lagi
Bibit liar yang mengakar lalu membatang pula ‘kan kubabat habis

Splash

Bagi Pemimpi

“Cinta tidak pernah mati bagi para pemimpi.”
“Ya itu kerjaan kamu, cuma mimpi.”
“Ga akan ada realita, jika ga ada mimpi.”
“Ah.”
“Kamu pikir realita dan mimpi dua hal yang berlawanan. Mereka justru berdampingan. Sama halnya hidup dan mati.”

Splash

Kecuali Kamu

Waktu aku mulai menyadari keberadaanmu di sekitarku, rasa-rasanya aku menemukan kembali alasan untuk tersenyum setiap hari, kembali tahu rasanya jatuh cinta, kembali tahu rasanya berdebar, kembali tahu rasanya merindu—setelah bertahun-tahun. Kamu adalah segala alasan mengapa aku bahagia.

Tapi ketika kamu pergi, segalanya kembali seperti semula. Semua serba abu-abu. Hening. Sepi. Aku tetap merindu, namun kali ini tahu kamu takkan kembali di sini. Hanya rindu berkepanjangan, takkan berjawab.

Sudah lelah aku merasa begini. Aku takkan membuka pintu lagi untuk siapapun…

kecuali kamu, bila kamu kembali suatu saat nanti.

Splash

La La Land Mengingatkanku

La La Land mengingatkanku pada alat musik yang biasa kamu mainkan

La La Land mengingatkanku pada lagu-lagu yang pernah kamu lantunkan

Saat kubilang Thom Yorke akan bangga padamu

La La Land membuatku bertanya-tanya apa Sebastian mengingatkanmu pada dirimu sendiri

Jemarinya

Pianonya

Angannya

La La Land juga mengingatkanku pada kita
Dua orang berbeda, bertemu sejenak, memunculkan rasa
Dua cita-cita berbeda
Sama-sama berusaha menggapai
Lalu berpisah, menuju dua jalan berbeda pula

Baik-baiklah di sana, di mana pun kamu berada
Kejarlah mimpi, raih semua
Meski aku takkan bisa jadi saksi

Splash

Pelukan Rindu

Mata cokelat yang besar itu.
Rambut hitamnya yang ikal.
Cambang yang tumbuh menyusuri tulang rahangnya.
Dagunya yang berlesung.
Bibirnya yang menggoda.

Pria itu berdiri menjulang di ambang pintu apartemen Leah. Mengenakan kaus putih, celana jeans dan sepatu Vans hitam. Tangan kirinya menggenggam pegangan koper beroda.

Sumpah serapah sudah berada di ujung lidah Leah, tapi ia tak bisa meluapkannya. Yang ada, justru rahangnya mengeras dan terasa sakit. Kemudian, giliran air matanya yang menggenang.

Mata pria itu begitu sendu. Kedua alisnya yang tebal turun. “Lee,” desah pria itu putus asa. Continue reading “Pelukan Rindu”

Splash

We End―What?

“Why you guys end that way? Why don’t you guys continue that relationship?”

I giggled.

What relationship?

Beside, we didn’t start anything.
And we didn’t end anything either.

It just happened… and gone.

That was it.

It was a pity.

But that was really it.

And life continues.