Splash

Hari Ini, Setahun Lalu

Hari ini, setahun lalu, aku mulai sadar aku jatuh hati padamu
Kala itu aku marah pada diriku sendiri
Karena aku tak mengenalmu
Karena aku tak tahu siapa kamu sejatinya
Karena kamu tadinya hanya bayangan belaka yang hidup di sekitarku, tak ku abai!
Aku tak punya alasan untuk mencintaimu
Tak ada alasan untuk takluk padamu!

Tapi… siapa tahu kamu memang bakal memiliki hatiku seperti hari ini?

Sayang kamu tak tahu
Kamu tak tahu apa yang sudah kamu curi—hati ini!

Sayang kamu tak tahu
Kamu tak tahu aku mencintaimu dalam diam
Hanya dalam jarak
Hanya dalam benak

Thoughts

Passionately

The thing about me is, you never want to listen to me talking about something or someone that I love or hate so much.

Why?

Because I love and hate passionately.

One example.
I love MotoGP, I love motorcycle racing a lot.
But if I talk about MotoGP with a casual fan, or somebody that isn’t really into MotoGP, then I’d be the most boring creature in the whole universe.

It happens too when I fall in love with somebody.
I can talk about him the whooole time. So it’s not really good.

So it happens also when I hate somebody?

Oh yeah.
When I hate somebody, I can insult them the whole day, with cruelest words you’ve never ever heard.

So yeah.
It’s hard to be me.
But I’m the only one who can walk in my shoes.

Thoughts

‘From Nothing Comes A King’

Sebenernya, niat awal gue nonton King Arthur: Legend of The Sword ini adalah ingin menonton akting Charlie Hunnam, yang selama ini hanya gue tahu melalui film Pacific Rim dan serial TV super keren Sons of Anarchy.

Trailer pertama: Wah, kayanya keren.
Trailer kedua: Njir, udah pasti keren nih!

Sebenernya juga, gue ga terlalu memahami kisah King Arthur, walau sekilas-sekilas gue pernah mendengar namanya disebut oleh nyokap yang rutin membacakan dongeng saat gue masih kecil. Maka, beberapa hari sebelum nonton film ini, gue mencuri-curi waktu di kantor untuk membaca kisah King Arthur, yang ternyata… wew, banyak banget versinya, ga cuma kisahnya, melainkan filmnya juga.

Gue baca, baca dan baca, meyakinkan diri sendiri pasti gue kuat baca semuanya, karena gue penasaran kenapa begitu banyak orang yang tertarik pada kisahnya, sampe filmnya banyak banget. Tapi gue akhirnya nyerah, dan memutuskan lebih baik gue ga terlalu tahu banyak soal King Arthur demi berjaga-jaga ga ngomel andai ekspektasi gue berbeda dengan film garapan Guy Ritchie ini. Continue reading “‘From Nothing Comes A King’”

Thoughts

‘Perbedaan’

Suedih au ndelok negoro iki. Duhkah.

Orang yang mengaku dirinya ‘bermoral’, ‘beragama’ dan ‘ber-Tuhan’ mestinya bisa paham, sadar dan melek ya kalo ‘perbedaan’ itu sejatinya yang menciptakan juga Tuhan.

Orang yang berbeda itu mestinya kita rangkul, bukan justru disisihkan. Kalopun kamu menganggap menjadi ‘berbeda’ itu sebuah kesalahan, tetep aja orang itu harus kamu rangkul, bukan disisihkan. Tapi aku sih menganggap bahwa ‘berbeda’ itu ga selamanya, ga selalu merupakan ‘kesalahan’. Kadang, ‘perbedaan’ itu justru bisa jadi pemersatu.

Kalo kamu marah hanya karena orang lain berbeda, dan kemudian kamu berusaha memusnahkan mereka, itu sama kaya gini : Di kala anak-anak lain main gundu, anakmu justru lagi main pasir, disebarkan ke seluruh penjuru rumah, rumah jadi kotor. Continue reading “‘Perbedaan’”

Thoughts

‘Kamu Tak Bisa Memprediksinya’

Baca tweet ini tuh… entahlah.

Gue baru menyadari rasa itu tumbuh sekitar tanggal 23 Mei 2016. Ya, sekitaran itulah. Saat itu, gue emang butuh banget distraksi untuk melupakan perasaan lama gue kepada seseorang. Gue butuh distraksi, tapi bukan distraksi berupa perasaan, cinta, apalagi cowo lain. Gue butuh distraksi berupa hiburan, pergi berpetualang bareng temen-temen, atau yang lain. Pokonya hura-huralah. Dan bukan yang begini ini…

Tiga bulan pertama, gue benar-benar marah pada diri gue sendiri. Bertanya-tanya kenapa bisa gue punya perasaan sama dia; dia yang nyaris setahun gue kenal, tapi selama itu pula gue ga pernah inget namanya, ga pernah inget mukanya, ga pernah inget apapun soal dia, padahal ketemu tiap hari. Continue reading “‘Kamu Tak Bisa Memprediksinya’”

Splash

Jumpa di Kedai Kopi

Lucu
Aku selalu mencari wajahmu di tengah keramaian,
berharap bertemu denganmu lagi dalam situasi tak terduga
Tapi aku juga sadar peluang pun aku tak punya

Lalu, saat kusudah nyaris putus asa dan yakin semua telah usai,
tak dinyana kamulah yang justru menemukanku di tengah lalu lalang orang

Kamu memanggil namaku
Aku berpaling pada suaramu
Melihat senyum dan wajah binarmu
Menangkap lambaian tanganmu

Tepat empat bulan berlalu—ya ampun, kamu benar-benar di hadapku!
Kupikir aku takkan pernah bisa lagi melihatmu

Kamu masih sama memesonanya bagiku
Kamu masih sama berkarismanya bagiku

Lucu, karena aku selalu berharap kita berjumpa di sebuah kedai kopi, dan begitulah yang terjadi

Semoga ini kesempatan keduaku
Aku tak mau mengulang salah yang sama
Aku ingin terus mengenalmu,
mengenalmu hingga nanti