Thoughts

‘From Nothing Comes A King’

Sebenernya, niat awal gue nonton King Arthur: Legend of The Sword ini adalah ingin menonton akting Charlie Hunnam, yang selama ini hanya gue tahu melalui film Pacific Rim dan serial TV super keren Sons of Anarchy.

Trailer pertama: Wah, kayanya keren.
Trailer kedua: Njir, udah pasti keren nih!

Sebenernya juga, gue ga terlalu memahami kisah King Arthur, walau sekilas-sekilas gue pernah mendengar namanya disebut oleh nyokap yang rutin membacakan dongeng saat gue masih kecil. Maka, beberapa hari sebelum nonton film ini, gue mencuri-curi waktu di kantor untuk membaca kisah King Arthur, yang ternyata… wew, banyak banget versinya, ga cuma kisahnya, melainkan filmnya juga.

Gue baca, baca dan baca, meyakinkan diri sendiri pasti gue kuat baca semuanya, karena gue penasaran kenapa begitu banyak orang yang tertarik pada kisahnya, sampe filmnya banyak banget. Tapi gue akhirnya nyerah, dan memutuskan lebih baik gue ga terlalu tahu banyak soal King Arthur demi berjaga-jaga ga ngomel andai ekspektasi gue berbeda dengan film garapan Guy Ritchie ini.

Dan emang benar, gue ga kecewa sama film ini. Menurut gue sih ciamik. Haha. Gue suka banget sama adegan-adegan kelahinya, pokonya penuh aksi, pedang di sana-sini, latar tempatnya juga keren dan Inggris jaman dulu banget. Tone yang ada di film ini mengingatkan kepada dua film Sherlock Holmes yang juga digarap Guy Ritchie, disertai transisi-transisi adegan yang juga mirip kedua film ini.

Nah, karena kisah dan film tentang King Arthur ini sudah melanglang buana di mana-mana, ceritanya ya begitu itu deh. Arthur kecil disuruh pergi meninggalkan kerajaan oleh sang ayah, Uther Pendragon, menyusul usaha pembunuhan oleh adiknya, Vortigern yang berambisi untuk jadi raja Inggris.

Tumbuh dewasa di kalangan rakyat biasa, tiba-tiba aja Arthur ketemu sama pedang Excalibur yang tertancap di sebuah batu. Hanya keturunan langsung Uther yang bisa mencabutnya, dan barang siapa yang bisa mencabutnya, dia berhak jadi raja. Arthur jelas adalah orangnya.

Arthur ga pengen jadi raja, dan pengen tetap menjalani hidup sebagai rakyat biasa. Tapi setelah ngelihat kelakuan busuk pamannya, mau ga mau dia harus merebut kembali kerajaan yang udeh ga jelas juntrungannya itu. Lalu… nonton sendiri wae lah lu pada. Haha.

Pada awal film, alurnya berjalan cukup lambat, walaupun perpindahan satu scene ke scene lainnya dibuat berjalan cepat hingga penonton ga akan menyadari. Tapi sampai setengah jalan, film ini mulai menunjukkan konfliknya dan cerita pun berjalan kian seru.

Akting Charlie Hunnam di sini juga keren, dan makin ke sini gue makin bersyukur dia ga jadi memerankan Christian Grey. Haha. Charlie yang punya tampang jutek, emang cocok buat meranin tokoh-tokoh berkarakter songong, tengil sekaligus sableng macem King Arthur, seperti yang udah dia buktikan saat memerankan Jax Teller di Sons of Anarchy. Semoga suatu saat nanti dia bisa mendapat peran yang lebih beragam. Gue rasa ini orang layak untuk dapet peran-peran besar dan ikonik.

Jude Law yang berperan sebagai Vortigern juga sukses bikin gue kesel, dan itu berarti aktingnya di film ini juga jago. Haha. Sayangnya, sebagai raja yang jahat dan bersekutu dengan ilmu hitam, karakter bengisnya kurang ditonjolkan di dalam film ini, juga kurang magis. Gue sedikit berharap sihir Vortigern lebih nampak dan berharap dia lebih intensif turun tangan sendiri untuk bikin Arthur benar-benar tersiksa.

Nah, seperti yang kita sudah tahu, Guy Ritchie yang dikenal suka bawa-bawa tokoh non-aktor dalam filmnya, mengajak David Beckham main di film ini. Ini sih bukan spoiler ya, karena jauh sebelum filmnya dirilis, udah ketahuan bahwa Beckham memerankan salah satu anggota Blackleg. Akting Beckham rada kaku dikit sih, yang menurut gue wajar banget. But all good.

Dalam film ini banyak juga CGI-nya, tapi ada beberapa adegan di mana CGI-nya terlalu kentara, ga halus, seperti saat Arthur adu pedang dengan ratusan Blackleg dalam kecepatan tinggi. Adegan ini bikin kaya kita lagi nonton orang main perang-perangan di video game. Meski begitu, CGI-nya ga sampe bikin kecewa berat dan tetep apik dan dramatis. Oh iya, kostum dan riasan aktor-aktornya juga keren banget.

Soal soundtrack-–sejak nonton trailer-nya, gue udah yakin film ini bakal punya soundtrack yang keren, dan memang benar! Musiknya memang sangat cocok untuk film yang punya tone dark dan penuh aksi kaya begini. Setelah nonton filmnya, coba deh dengerin albumnya di platform-platform musik macem Spotify. Sungguh sebuah album yang membuat bulu kuduk meremang…

Ya begitulah corat-coret gue soal King Arthur: Legend of The Sword. Seperti biasa, gue ga mau menyebut tulisan ini sebagai sebuah review, melainkam curhatan soal film yang gue tonton. Haha.

Sebuah pelajaran yang gue petik dari film ini adalah, kalo lo pengen nonton sebuah film, ya udah, berangkat aja. Jangan dengerin orang yang bilang film itu jelek padahal sendirinya belum nonton.

Gue ngomong begini karena saat mengumumkan bahwa gue hendak nonton King Arthur, beberapa teman berkata, “Ngapein lo nonton? Katanya sih itu film biasa aja. Kita mah mending nonton XXXXX.” (((KATANYA)))

Entahlah ya, tapi ternyata menurut gue King Arthur bagus-bagus aja tuh. Gue orangnya emang ga terlalu peduli sama review-review di luar sana sih. Kalo gue pengen nonton, ya gue berangkat nonton. Ini hanya soal selera sih. Eheheww.

Ya sudah, gitu aja curhatnya. Sila nonton trailer King Arthur: Legend of The Sword di bawah ini yaaa. Cheers!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s