Thoughts

‘Perbedaan’

Suedih au ndelok negoro iki. Duhkah.

Orang yang mengaku dirinya ‘bermoral’, ‘beragama’ dan ‘ber-Tuhan’ mestinya bisa paham, sadar dan melek ya kalo ‘perbedaan’ itu sejatinya yang menciptakan juga Tuhan.

Orang yang berbeda itu mestinya kita rangkul, bukan justru disisihkan. Kalopun kamu menganggap menjadi ‘berbeda’ itu sebuah kesalahan, tetep aja orang itu harus kamu rangkul, bukan disisihkan. Tapi saya sih menganggap bahwa ‘berbeda’ itu ga selamanya, ga selalu merupakan ‘kesalahan’. Kadang, ‘perbedaan’ itu justru bisa jadi pemersatu.

Kalo kamu marah hanya karena orang lain berbeda, dan kemudian kamu berusaha memusnahkan mereka, itu sama kaya gini : Di kala anak-anak lain main gundu, anakmu justru lagi main pasir, disebarkan ke seluruh penjuru rumah, rumah jadi kotor.

Gimana kamu mengatasi masalah itu? Ga mungkin ‘kan, kamu marahi habis-habisan, kamu katakan anakmu itu laknat, lalu kamu usir dari rumah, kamu coret dari KK?

Yang baik ya dinasihati (sekali lagi, dengan baik-baik), katakan kalo itu salah, lalu minta dia bertanggung jawab dengan cara nyapu dan ngepel, kasih tau juga alasan kamu minta dia nyapu sama ngepel : biar rumahnya bersih, rapi dan nyaman. Lebih baik lagi kamu bantu dia, menyatakan bahwa jika salah pun bukan berarti dia harus merasa sendirian.

Lagian ya, orang yang ‘berbeda’, atau bahkan ‘perbedaan’ itu sendiri, kok malah mau ‘dimusnahkan’, dianggap cuma bawa sial. Yang sialan itu kamu, kamu-kamu yang berpikir begitu. ‘Kasian’ Tuhan, karena bahkan ciptaan-Nya pun ga kamu akui.

Duh. Nyemplungo sumur rek. Mbleneg au ndelok kown.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s