Thoughts

Oh Boy!

Beberapa hari lalu, sepupu tertua saya, Sandy dateng ke Malang. Setelah setahun, akhirnya kami ketemu lagi. Kali ini, Sandy dateng bareng bapaknya, David.

David ini berasal dari Selandia Baru. Berdasarkan cerita emak, David ini datang ke Surabaya di era 1970an, lalu bertemu dengan budhe saya, Risa dan menikah—kalo ga salah, mereka menikah pada tahun 1977, saat Budhe Risa masih berusia 19 tahun. Honestly, I can’t imagine that life.

Menikah di usia yang begitu belia, begitu belia pula Budhe Risa harus meninggalkan Indonesia. Jauh dari orang tua, dan ga sempet ‘belajar’ untuk mengurus dirinya sendiri, sebelum benar-benar mengurus orang lain, dalam kasus ini suami dan anak-anaknya. Ditambah benturan budaya, makin peliklah masalah.

Entahlah, itu urusan orang-orang dewasa (setidaknya buat saya: mereka dewasa dan saya masih anak-anak, hehe), yang jelas, long story short, mereka bercerai di awal 1990an. Lima orang anak jadi korban perselisihan keluarga. Bahkan sampai sekarang, masalah keluarga mereka rauwisuwis.

Sandy yang sekarang tinggal di London, jelas jarang banget ketemu keluarga kami yang tinggal di Indonesia. Kebetulan, Sandy ini penggila sepeda, bahkan terobsesi jadi atlet sepeda. David sendiri walaupun udah sepuh, masih suka traveling. Keduanya pun memutuskan bersepeda ke Gunung Bromo, dan setelahnya mampir ke Malang untuk ketemu keluarga saya.

Sandy dan David pun mengundang ibu dan saya ke Hotel Tugu tempat mereka menginap, untuk makan malam di restorannya, Restoran Melati. Walaupun David dan Budhe Risa udah cerai, bukan berarti kami putus silaturahmi, ya walaupun ini merupakan pertemuan pertama saya dengan pakdhe saya itu usai 18 tahun berselang.

Yah, namanya juga catch up sama keluarga, yang diomongin ya jelas persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar kami, entah yang positif maupun yang negatif. Dan akhirnya muncullah topik untuk membicarakan Budhe Risa.

Bla bla bla. Akhirnya, Sandy nyeletuk ke bapaknya, “Hey Dave, I can’t even imagine how did you feel when you broke up with Mom.”
Mata David segera terbelalak dan kedua alisnya naik, “Oh boy!” serunya, lalu menghela napas. “Of course it was horrible. Very very horrible,” David melihat ke arah saya dan menggeleng pelan. “Nobody wants to get divorce, but we had to!”
“Yeaaahh,” Sandy terkekeh sinis.
“So I tell you what? If you want to get married, make sure you marry the right one!” David menunjuk Sandy samar, lalu kembali melihat ke arah saya. “Jangan tiru keluarga saya!” ucap David dengan logat bulenya yang ga ilang-ilang walau udah puluhan tahun tinggal di Indonesia.

“Eww,” Sandy menghela napas, lalu melihat ke arah saya sekilas, seolah ngomong kalo menikah adalah komitmen yang terlalu serem untuk dia hadapi, sekaligus seolah golek bolo. Kampret.
“But he’s right,” ucap saya singkat.
“Yes yes. If you want to get married,” ulang David sambil mengangguk-angguk dan menatap ke arah piring saladnya yang udah kosong, “make sure you marry the right one.”

“Err… no comment on that,” kata Sandy pelan, lagi-lagi ekspresi wajahnya mengatakan bahwa menikah adalah hal menakutkan.
Giliran saya yang ngakak ngece.
“Ooorr… don’t get married,” Sandy menunjuk bapaknya, lalu melihat ke arah saya lagi, meminta persetujuan.
“Well, yea right. It’s a choice tho,” ujar saya.
“See!” seru Sandy senang.
Bapaknya cuma ngangguk-ngangguk.

OH BOY!
Andai semua orang di sekitar saya ini mikirnya sama kaya Sandy dan saya. Menikah atau ga menikah, kapan menikah, menikah sama siapa : benar-benar dianggap enteng. Dipikir seriusnya nanti aja, kalo emang bener-bener udah ada calonnya. Kalo belum dapet calon, ya lapo dipikir?

Saya benci benar pada stereotipe dan dogma bahwa orang yang usianya mencapai pertengahan 20-an harus sudah menikah. Dan kalo belum menikah, dianggap ada yang salah pada diri mereka. Ya walaupun sebenernya ga ada yang mengharuskan, tapi tetep aja kamu bakal dianggap aneh kalo kamu udah berusia di atas 25 tahun dan belum nikah juga, apalagi kalo kamu cewe.

Dengkulmu anjlok.

Sebenernya, tulisan ini rada nyambung sama tulisan saya yang ini, dan saya nulis ini murni karena sebel, kesel, pegel. Emang opoko se lek aku durung rabi? Awakmu kate mbandani gedunge? Panganane? Kok takoookk terus. Huh kah.

Tulisan ini juga saya buat setelah abis kongkow dengan sahabat saya, Desy di foodcourt Matos semalam. Setiap ketemu, pembicaraan kami yang santai, akhirnya jadi dalem banget, termasuk ngomongin jodoh. Kami sama-sama single, dan sama-sama kesel karena orang menganggap kami ini miserable (btw, asyik ya kalimatnya jadi berima).

Kami yang tadinya ga merasa miserable hanya karena lagi single, jadi merasa miserable beneran. Bukan miserable karena ga punya pasangan, melainkan merasa miserable karena pandangan orang terhadap kami, yang selalu bertanya-tanya, “Apa sih yang kamu tunggu?” atau bilang, “Jangan sampe telat nikah lho ya,” atau “Kamu jangan terlalu asyik seneng-seneng atau hedon.”

Mbahmu sangkil.

When it comes down to jodoh or marriage, pertanyaan ‘apa sih yang kamu tunggu?’ itu konyol dan retoris. Ketika kamu ngomongin pernikahan bareng kami, lalu bertanya pada kami apa sejatinya yang kami tunggu, jawabannya ya ‘jodoh’. Blos! Wes ngerti jawabane kok yo sek takok ae. Pegel raentekentek.

Dan saya kesel banget ketika orang menuduh saya terlalu asyik seneng-seneng atau hedon. Kalo ga tau jalannya kehidupan saya kaya gimana, jangan anggap saya ini cuma bisa hedon. Definisimu dan definisi saya soal ‘hedon’ itu sudah pasti berbeda.

Jadi, wes to, ojok takok kapan koncomu rabi, kapan dulurmu rabi. Lek wayahe rabi yo rabi. Titik. Huh kah.

Maap ya kujadi maramara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s