Thoughts

“Kapan Kawin?” | “Lha Kuapokmu Kapan?”

“Pacarnya mana?”
“Kapan kawin?”
“Kapan nyusul?”

Baaahh. Cape beneeerr ditanyain beginian. Asli.
Tapi emang wajar sih, jika kamu mendapatkan pertanyaan macam ini di usia yang dianggap sudah matang.
Masalahnya, di usia yang dianggap sudah matang ini, aku merasa belum matang!

Salah satu bukti : setiap kali pergi ke toko atau mall, aku masih aja suka nyamperin konter mainan buat cari action figure superhero-superhero Marvel dan DC Comics. Dan setiap kali pergi ke toko sepatu, yang aku incer adalah sneakers alih-alih sepatu-sepatu cewe agar aku terlihat feminin dan menarik lawan jenis! Pret.

Matang? Ah, masaaa ~

Sungguh tak bisa kupungkiri bahwa aku sungguh teramat kesal―bahkan belakangan ini jadi sensi―ketika orang bertanya, “Kanya kapan kawiiinn?”

Kalo mau kasar, bisa aja aku jawab, “Why don’t you go f*ck yourself and mind your own sh*t?”
Tapi masa Kanya jawabnya ga sopan gitu sih…

Yaaa, walaupun di mulut sopan, tapi sebenernya otak aku pengen jawab kasar begitu. Ngahahaha.

“Tapi tapi tapi, Kanya, mereka tanya begitu cuma karena mereka peduli sama kamu…”
Mereka peduli? Ah, masaaa ~

Ibu selalu mengajarkan bahwa, “Jangan pernah tanya orang kapan mereka bakal nikah. Jangan pernah tanya orang kapan mereka bakal punya anak. Jangan pernah tanya orang kapan mereka mau tambah anak lagi. Karena kehidupan setiap orang punya jalan dan garisnya masing-masing dari Tuhan.”

Yaaa, walaupun emak aku dulu suka nanya, “Kapan skripsi kamu selesai?!” dan membuatku merasa sungguh nista. *Alhamdulillah sekarang sudah lulus kuliah dengan IP yang baik walau ga cumlaude dan lulus molor kaya elu kalo ngebo*

Nasihat ini ibu berikan ketika para tetangga komplek rumah aku yang lama beberapa kali ngomongin seorang mba-mba yang rumahnya tepat di seberang rumahku. Mba-mba yang kita sebut saja Dahlia ini usianya nyaris mendekati 40 tahun, tapi belum terlihat punya pasangan, atau suami.

Selain awet muda, gawl dan merupakan penggemar Batman, ibuku bukanlah emak-emak yang suka rumpik pas beli sayur. Makanya doi gerah banget pas Mba Dahlia ini jadi gunjingan warga sekitar. Menurut emak aku, “Yelloooww! Urusan laaaww apaan yeeeww kalo dese belom kewooonngg?” (Emak aku ngomongnya kaga begini-begini amat sih. Suer.)

Aku aja yang masih umur segini udah tertekan banget pas ditanyain pacar aku ke mana, apalagi Mba Dahlia yang hampir 40 tahun. Manusia-manusia ini terkadang emang empatinya ga dijaga dengan baik sampe ga nyadar empatinya digondol sama tikus got.

Aku sendiri, harus kuakui, alhamdulillah, dari dulu sampe sekarang, ga pernah bertanya ‘kapan kawin?’ dan ‘kapan punya anak?’ ke siapa pun. Selain karena teringat pesan emak tadi, aku merasa ndak punya hak nanya-nanya begitu, wong aku belum kawin juga. Lagian, aku juga yakin bahwa itu adalah pertanyaan yang… terlalu pribadi.

Bayangin aja, kamu tiba-tiba nanya, “Pacar kamu mana?” ke seseorang, dan ternyata dia tengah merasa seperti orang paling miserable di dunia karena yakin bahwa―amit-amit―ga ada orang yang menginginkan dia.
Bayangin aja, kamu tiba-tiba nanya, “Kamu kapan kawin?” ke seseorang, dan ternyata mereka baru putus, atau pasangannya―amit-amit―dipanggil Tuhan beberapa hari yang lalu.
Bayangin aja, kamu tiba-tiba nanya, “Kapan mau dapet momongan?” ke seseorang, dan ternyata mereka―amit-amit―’susah’ dapet anak, dan tanpa kamu tahu mereka sudah berusaha sangat keras agar dapet buah hati.

Elu pikir kehidupan semua orang sebahagia, semulus dan sehahahihi kehidupan elu?
Enggak braaayy.
Makanya, mikiiirr!
Ugh, kzl deh eug.

Tempo hari, seseorang bertanya padaku di hadapan ibuku sendiri, “Kanya pacarnya mana?”
Aku cuma ketawa dan jawab, “Masih disimpen Allah,” sambil tipis-tipis berharap bahwa gebetan aku merasakan hal yang sama seperti isi hatiku ini agar aku tak lagi mendapatkan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang makin lama makin terdengar klise, cheesy, membosankan dan tidak kreatif ini.
Ibuku nyahut, “Bocahnya masih suka ngebolang. Lagian Allah masih suruh dia dampingin aku.”
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah memberi hamba seorang ibu yang sungguh baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan merupakan penggemar Led Zeppelin ini.

Beberapa hari kemudian, beberapa sepupu yang baru aja nikah juga dateng ke rumah dan bertanya, “Kanya, kamu kapan nyusul? Jangan telat!”
Karena hari itu aku lagi cape pikiran, langsung aja nyeplos, “Haaiisshh! Ga usah dibahas!”

“Telat? Yang telat itu siapa? Ke mana? Buat dapetin apa?” tanyaku dalam hati, lalu senyum-senyum sendiri kaya orang bego. Iya, jadi bego beneran deh eug kalo dapet pertanyaan macam ini.

Level bahagia setiap orang dalam kehidupannya itu berbeda. Jangan disamaratakan dengan level bahagiamu. Mungkin aja kamu merasa sangat bahagia ketika kamu dilamar di bawah malam berbintang dengan cincin berlian berkarat-karat, sementara aku sudah merasa cukup bahagia ketika aku dilamar di warung pinggir jalan pake 30 tusuk sate ayam yang bumbu kacangnya sedep.

Kalo mendaki gunung misalnya, ada yang baru bahagia ketika benar-benar sampai ke puncak. Tapi kalo aku udah cukup bahagia ketika berada di lereng, awakmu kate lapo? Mungkin aja lereng itu adalah puncak versiku sendiri.

Mungkin buat kamu, menikah adalah tujuan hidup, atau titik kepuasan terpuncak dalam hidup. Tapi buat orang lain, mungkin aja membahagiakan diri sendiri, entah-persetan-tak peduli bagaimana caranya, adalah tujuan hidup, atau titik kepuasan terpuncak dalam hidup.

Siapa pun di muka bumi ini pasti pengen hidup bahagia sama pasangannya. Pengen punya pacar. Pengen punya pasangan yang halal. Pengen ada yang mengayomi, berbagi suka duka. Pengen momong anak. Jadi ndak usah ditanya laaahh. Dan ndak usah sok peduli kapan mereka akan mendapatkan hal-hal ini dalam hidup mereka. Kalo beneran peduli, jangan nanya, tapi bantu.
Misalnya : jadi mak comblang temennya yang lagi jomblo. Gitu lho. Nguehehehe.

Udah lah brosis-brosis, ga usah tanya kapan aku punya pacar atau kewong. Kenapa sik napsu amat nanyanya? Engko awakmu naksir pacarku? Wegah ta.
Toh nanti kalo kesampaian punya pacar, fotonya takshare di Instagram. Kalo kesampaian nikah, ya undangannya taksebar ke kamu. Kok jian ngueyel eram to takon-takon kapan. Sing kudu sabar ngenteni ki aku utowo awakmu to? Ngahahaha.

Nah, dan menyambut 2017 ini, salah satu resolusi saya adalah menyiapkan jawaban-jawaban yang―maaf aja―bikin orang stop mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa.

Pertanyaan ‘pacarnya mana?’ bakal aku jawab ‘masih di masjid, berdoa biar ketemu aku’.
Pertanyaan ‘kapan kawin’ bakal aku jawab ‘YEEE KEPO YEEE KEPOOO!!!’
Pertanyaan ‘kapan nyusul’ bakal aku jawab ‘lek wes isi bensin’.

“Tapi tapi tapi, Kanya. Nikah itu enak lho. Kamu bakal dapet ini itu blablabla…”

Iyo iyo, lek rabi lak yo takrasakno dewe. Lha lek Gusti Allah durung mengizinkan iki terus aku kudu lapo? Lak ngono a.

Dan semoga juga, ketika aku mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tersebut tahun ini, aku bisa jawab, “Lha ini, bocahnya ada di sebelahku. Ga tau kapan mau ngelamar.” Cek meneng kabeh ora takok-takok maneh. Bah!

Makanya, comblangin aku sama temenmu yang kece lah.

Cheers,
Ka.

PS. It might be the cheesiest post that I’ve ever posted on this blog, but it’s just me being so sick and tired of ‘these’ people with zero empathy. Deuces.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s