Thoughts

Vans Baru vs Chuck Buluk

Beberapa hari belakangan, gue selalu ketawa geli saat hendak pulang dari kantor.

Jadi gini. Kantor gue ini bener-bener kantor yang suasananya begitu santai. Siapa pun yang kerja di sini, udah pasti menganggapnya rumah kedua. Kata ‘rumah’ bahkan bukan sekadar metafora bagi kami para staf dan karyawan, karena kantor kami ini emang terletak di salah satu komplek perumahan elite.

Lo boleh pake baju ga formal. Mau pake kaus oblong? Boleh. Mau pake kemeja? Boleh juga. Pake celana pendek? Boleh, asal diusahakan jangan pake hot pants. Pake celana jeans? Boleh banget.

Ke kantor pakai sneakers? Boleh, bahkan sendal jepit sekalipun. Toh sebelum masuk ke dalam ruangan kerja, kami bakal lepas alas kaki. Kami adalah para profesional yang ga perlu berdandan formal. Hehehe. 

Setiap pagi, gue melepas sneakers di teras belakang kantor, karena dari sanalah kami semua masuk. Gue selalu meletakkan sneakers di rak pendek yang memanjang di luar jendela kantor. Sneakers gue akan anteng berada di sana, ga bakal gue jamah lagi sampai jam kantor berakhir.

Gue suka pake sneakers. Sneakers dan sepatu hak yang gue punya bahkan berbanding 12 : 1. Dan belakangan ini, gue lagi suka pake sepatu Converse Low Chuck Taylor warna putih. Gue selalu suka sepatu-sepatu Chuck yang menurut gue desainnya flawless.

Menurut pepatah, ‘Chuck yang tidak buluk bukanlah Chuck yang sesungguhnya’ atau, ‘Chuck-mu belumlah Chuck bila belum buluk’.

Yaaa, gue suka Chuck buluk. Setiap kali beli Chuck baru, gue ga sabar nungguin dia sampe buluk. Tapiii, jelas gue punya standar sendiri soal definisi ‘buluk’ ini. Gue jelas ga akan membiarkan Chuck gue benar-benar kotor kaya ga dicuci selama berabad-abad. Menurut gue, Chuck buluk yang keren adalah Chuck yang terkesan ‘usang’ aja, bukannya kaya abis dicelupin ke dalam kubangan lumpur badak.

Meski begitu, beberapa hari belakangan, gue ngerasa Chuck putih gue ini udah waktunya untuk dicuci, karena menurut gue udah cukup kotor, mengingat sepatu itu udah beberapa kali terkena air hujan dalam dua minggu terakhir. Lagipula sepatu itu seinget gue udah tiga bulan ga gue cuci. Tapi orang-orang di sekitar gue berkata, “Ya cuci aja. Tapi sebenernya sepatu lo ga keliatan kotor-kotor amat. Biasa aja, kaya Chuck buluk pada umumnya.”

Jadi, gue menunda niat mencuci sepatu itu.

Tapi, kayanya Tuhan emang menyuruh gue untuk segera mencuci sepatu itu. Karena beberapa hari terakhir, seseorang di kantor baru aja beli sepatu Vans Authentic Lo Pro warna putih, dan meletakkan mereka tepat di sebelah Chuck putih gue. Tiga hari beruntun.

Vans baru vs Chuck berusia empat tahun. Jelas keliatan bedanya!

Sampe gue mengunggah tulisan ini, gue ga tau siapa pemilik Vans itu. Kalo diliat dari ukurannya, kayanya Vans itu punya cowo, karena ukuran sepatu gue sendiri cukup besar untuk ukuran cewe, dan Vans itu keliatan satu nomor lebih besar dibanding Chuck gue.

Dan entah sengaja atau tidak, peristiwa ini jelas bikin gue ketawa. Seolah semesta berkata, “Menurut lo sepatu lo itu emang ga keliatan kotor, tapi coba bandingin sama sepatu ini! Sepatumu iku jelas njijiki!”

Gue juga jadi mengira-ngira siapa pemilik Vans itu, dan membayangkan apa yang dia pikirin sampe dia meletakkan Vans baru itu di sebelah Chuck gue yang buluk.

Tapi, oke deh! Wahai teman sekantor yang baru beli Vans baru, terima kasih telah memotivasiku. Aku bakal segera mencucinya!

Kalo sempet. Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s