Thoughts

“No Way…”

Aku selalu menyimpan foto diriku saat berusia 4 tahun di dompet. Saat pergi menonton film bersama Denny, aku bertanya padanya ketika kami menunggu pesanan popcorn tiba.
“Kamu percaya ga kalo ini aku?” aku menyodorkan dompetku padanya.
Senyum langsung tersungging di bibirnya, menunjukkan kawat gigi yang berjejer di giginya. Lalu ia menatapku dengan sorot tak percaya, “Sumpah?!”
“Dibilangin juga.”
“Ga percaya,” ia mulai terkekeh geli.
“Kok ga percaya sih?”
“Lagian… kok kamu waktu kecil lebih lucu daripada gedenya?”
“Kecilnya lucu, gedenya imut kaaann?”
Kali ini ia tergelak, “Allahu akbar. Diiyain aja deh.”

Sebulan berselang, aku menemukan foto diriku saat berusia 2-3 tahun di Facebook, yang diunggah ibuku tujuh tahun lalu. Aku membaginya ulang dan berkata, “Pasti ga ada yang percaya bahwa anak imut nan syalala ini aku.”
Denny berkata, “No way…”
Aku membaca komentarnya itu sembari membayangkan wajahnya andai ia mengatakannya secara lisan di hadapanku. Pasti ia bicara dengan nada meledek, menggeleng pelan, matanya terbelalak lebar dan senyum aneh tersungging di bibirnya, sekali lagi menunjukkan deretan kawat giginya.

Denny, bukan orang pertama yang terheran-heran melihat foto-fotoku saat kecil. Orang-orang menganggap Kanya versi kecil begitu lucu dan menggemaskan. Menurut cerita ibuku, ketika aku masih kecil, orang-orang tak dikenal bahkan kerap repot-repot berhenti berjalan hanya untuk mengajakku bicara, atau mencubit pipiku dan berkata, “Aduh, lucunyaaaaa…”

Jadi, dewasa ini, orang-orang tentu akan terkejut saat membandingkan Kanya versi kecil dengan Kanya versi besar. Karena Kanya besar sudah tak lagi selucu itu.

Aku yang sekarang begitu tomboy, sungguh berbeda dengan Kanya kecil yang begitu feminin, kerap mengenakan baju-baju dengan desain unik dan warna-warna cerah, rambut yang ditata dengan berbagai macam gaya. Kanya yang sekarang juga begitu gendut, bukannya menggemaskan seperti saat kecil.

Jangankan orang lain, aku saja benar-benar tak percaya bahwa anak kecil di foto-foto itu adalah diriku sendiri. Dewasa ini, tentu takkan ada orang yang memberikan ucapan serupa. Karena aku memang tidak seenak itu lagi untuk dipandang.

Yep, seperti kata Denny, “No way…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s