Thoughts

‘Asyik’?

“Temen-temenku nanyain kamu waktu lihat foto-foto kita.”
“Ha? Temen-temen yang mana?”
“Ya temen-temenku.”
“Nanyain apa?”
“Mereka nanya, ‘Ini siapa? Asyik ya gayanya’. Gitu.”

Bukannya congkak, tapi aku memang kerap kali mengalami percakapan macam ini dengan sahabat-sahabatku. Dan reaksiku selalu sama: hanya mendengus, karena aku sungguh tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Jujur saja (dan aku sangat, teramat, sungguh-sungguh jujur soal ini), aku sama sekali tak pernah merasa diriku ini ‘asyik’. Aku bukan orang yang ‘asyik’. Orang yang menganggapku ‘asyik’, menurutku justru mengucapkannya karena mereka tak mengenalku dengan cukup baik.

Sejak masa-masa sekolah, aku ini termasuk salah satu siswa cupu, tidak keren, sama sekali tidak dikenal, dengan prestasi biasa-biasa saja, bahkan termasuk salah satu korban bully (ya, kamu membacanya dengan benar). Aku tidak mengikuti ekstrakurikuler yang membuat para anggotanya dikenal. Aku juga kutu buku. Aku tidak modis dalam berbusana.

Aku hanya siswa gendut, hitam, berkacamata tebal, rambut kuncir ekor kuda, sabuk selalu terlihat, kaus kaki di atas mata kaki dan memakai seragam dengan rapi. Saat jam istirahat, aku tak pernah berlama-lama nongkrong di kantin, dan sepulang sekolah, aku juga langsung pulang ke rumah tanpa nongkrong di warung kopi terdekat seperti yang dilakukan anak-anak terkenal lainnya.

Hal itu, masih berlangsung sampai sekarang. Meski begitu, setidaknya aku sudah lebih luwes ketika aku duduk di bangku perkuliahan. Di masa-masa kuliah inilah aku bertemu dengan 30 teman seangkatan, plus satu jurusan, yang bisa kuanggap sebagai saudara. Meski begitu, di masa kuliah pun, aku masih memiliki sisi dan jiwa cupu itu, seolah sisi ini takkan pernah lepas dari diriku.

Sampai sekarang, aku juga merupakan tipe orang yang lebih suka berdiam diri di rumah. Menatap laptop untuk menulis cerita, atau membaca buku apa saja sembari berbaring di tempat tidur. Aku hanya sesekali pergi ke mall atau bioskop. Itu saja hanya kulakukan dengan keluarga atau beberapa sahabatku.

Kusadari aku tak begitu suka keramaian, kecuali bila ‘ramai’ berarti berada di sekeliling orang-orang terdekat yang benar-benar mengenalku.

Aku benar-benar tidak ‘asyik’, tidak ‘keren’. Jadi aku tak tahu apa yang dilihat oleh orang-orang yang menganggapku ‘asyik’. Aku juga tak tahu apa yang dirasakan oleh orang-orang yang menganggapku supel. Padahal, aku ini sungguh… clumsy. Apa padanan kata untuk ‘clumsy’ dalam Bahasa Indonesia? Canggung? Kikuk? Ya, semacam itu.

Aku bahkan selalu minder berada di tengah-tengah teman-teman yang keren, yang selalu membicarakan hal-hal aktual yang terjadi di sekeliling. Aku selalu merasa wawasanku tak seluas mereka, tempatku nongkrong juga sangat jauh berbeda dengan mereka, caraku berbusana juga jauh berbeda dengan mereka, dan aku tak pandai bicara seperti mereka.

Tapi yang jelas, aku selalu berusaha menjadi diriku sendiri, meski terkadang menjadi diri sendiri justru menyakiti orang lain. Menjadi diri sendiri jauh membuatku merasa jauh lebih nyaman… lebih aman.

Jadi, apa definisi dari kata ‘asyik’?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s