Splash

Bulan Purnama Semalam

“Bulannya mana ya? Perasaan kemarin aku lihat bulan purnama,” kataku sembari melihat langit yang hitam kelam tanpa bintang.
“Oh iya, kemarin aku juga lihat. Aku lihatnya semalem. Purnama ‘kan?” ujarmu, ikut menatap langit.
“Iya, aku lihatnya juga semalem.”
“Bagus banget emang.”
“Iya, baguuuss banget. Besar. Agak merah.”
“Sekarang mana ya?”
“Nah, itu dia. Makanya sekarang aku cari.”

Hening sejenak.

“Wah,” celetukmu, “ternyata semalem kita sama-sama lihat bulan ya?”
Aku memalingkan wajah dari langit dan menoleh padamu. Mata kita beradu, “Wah, iya.”
“Kok bisa ya? Apa artinya?” tanyamu.
“Romantis ya kita?”
“Iya. Jangan-jangan… kita…”

Lalu pecahlah tawaku dan tawamu…

…tanpa kautahu bahwa ketika aku menatap bulan purnama semalam, aku memang memikirkanmu.
Aku bertanya dalam hati, “Apakah dia juga sedang menatap langit? Apakah ia tahu bahwa bulan purnama sedang bagus-bagusnya?”

Itulah yang membuatku tertawa geli.
Siapa sangka kita berdua justru membahas bulan purnama semalam malam ini?
Berdua saja.
Aku dan kamu.
Di bawah langit hitam.
Di rengkuhan malam.
Sebelum kita bersama menyenandungkan lagu soal bulan sabit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s