Splash

Satu Patah Katamu

Aku masih ingat hari itu
Kamu berjalan di depanku saat kita menaiki tangga itu
Gerimis turun membasahi kita
Sama-sama terbalut jaket hitam, tudung menutupi kepala dan rambut kita
Tudung itu membuatmu terkesan jauh lebih misterius dari yang kupikir
Sementara tudungku membantuku menutupi mataku sendiri yang tak bisa lepas darimu

Aku terengah, lelah, lutut terasa hendak patah
Padahal puncak tinggal beberapa meter saja
Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas
Mengembalikan energi
Kulanjut nanti saja, ucapku dalam hati
Bahkan aku ingin menyerah saja

Tiba-tiba, kusadari kau hanya berjarak dua anak tangga di depan
Kamu menoleh ke belakang
Tatap kita beradu
Kamu menjulang di hadapku
Melirikku tajam
Tersenyum sinis
Berkata dengan suara angkuh, “Ayo.”
Kemudian kembali menatap ke atas
Melanjutkan perjalananmu sendiri ke puncak

Aku benci kepongahanmu hari itu
Yang tiada henti sejak pagi hingga sore
Yang tak biasa kaulempar padaku
Tunggu aku kek!
Jangan pergi begitu saja tanpa peduli!

Tapi entah mengapa, justru satu patah katamu lah yang melecutku
Napas dan energi belum kembali, namun aku tak peduli
Kulangkahkan dua kaki ini menapaki tangga lagi
Toh tinggal beberapa meter saja
Tinggal beberapa anak tangga saja

Dan…
Aku melampauinya
Aku ada di puncak sana
Bersamamu
Melihat senyummu
Melihat rambutmu tertiup angin ketika tudung sialan itu jatuh ke pundakmu

Pemandangan dari puncak sana memang indah
Tapi… bersamamu, tiada yang lebih indah daripada itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s