Thoughts

Lelah…

Terkadang… Well, tak hanya terkadang sih, melainkan sering kali. Aku merasa sangat lelah mendengarkan candaan-candaan mereka soal masa laluku.

Awalnya, memang terasa lucu. Tapi semakin sering dibahas, semakin muak pula aku mendengarnya. Ini karena aku sangat berjuang keras untuk keluar dari masa lalu. Singkatnya: move on. Move on adalah kegiatan yang tidak mudah, namun akan lebih mudah jika semesta mendukung.

‘Semesta’ yang kumaksud, adalah ketika kerabat di sekitarmu juga membantumu untuk move on. Misalnya, menghiburmu, mengalihkan perhatianmu kepada hal-hal lain, dan… tidak berusaha mengungkit-ungkit masa lalu di depan wajahmu.

Sejatinya, mereka juga tidak salah-salah amat, karena mereka memang tak tahu apa yang sejatinya terjadi padaku. Mereka tak tahu, karena aku memang tidak pernah membicarakannya, apalagi menceritakannya kepada mereka.

Yang mereka tahu, hanya sebatas yang kuunggah di media sosial, lewat foto, lewat caption. Mereka mengambil kesimpulan-kesimpulan sendiri dari sana, yang sejatinya hanya ‘permukaan’ saja.

Mereka tidak tahu perjalanan macam apa yang kulalui, dan bagaimana beratnya, sejauh mana perasaan dan pikiranku dikuras oleh masa lalu. Mereka juga tidak tahu alasan-alasan apa yang membuatku memutuskan untuk meninggalkan masa lalu itu.

Sederhananya: You know me, you know my story, but you don’t know what I’ve been thru.

Tapi juga salahku, seharusnya aku tidak pernah mengunggah foto-foto itu. Well, aku memang selalu punya hubungan benci-benci-cinta dan cinta-cinta-benci dengan media sosial. Sungguh pedang bermata dua.

Tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegah hal ini, karena semakin aku melawan, maka mereka akan semakin menjadi-jadi. Apa aku pernah marah, jengkel, kesal? Pernah. Bahkan aku pernah nyinyir pada mereka semua.

Tapi ujung-ujungnya, aku justru merasa sangat bersalah telah membuat suasana menjadi kikuk dan aneh, membuat hubungan kami semua yang tadinya baik-baik saja menjadi janggal. Mereka juga jadi berpandangan bahwa aku punya selera humor yang rendah karena tak bisa diajak becanda.

Hah, percayalah. Aku memang orang yang emosional, tapi aku juga bisa bercanda sampai gila dan membuat perutmu kaku karena tertawa jika memang leluconnya pas.

Meski begitu, aku diam pun, mungkin juga tidak akan membuat mereka diam.

Ah, entahlah. Aku serba salah. Jika aku menampik, mereka yang tersakiti. Jika aku diam saja, akulah yang tersakiti.

Aku sudah tak lagi mencari solusi soal ini. Menuliskan ini saja, mungkin orang lain juga bakal ikut mengomeliku.

Ya, aku menuliskan ini hanya karena aku merasa gerah, dan lelah, serta tak tahu harus bagaimana lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s