Splash

Tidakkah Kausuka Hujan, Priaku?

“Aku suka hujan,” aku mengaku di hadapan semua orang ketika bulir-bulir air itu mulai turun dari angkasa.

Orang menatapku heran, bahkan ada yang menatapku sinis.

“Kau sudah gila. Hujan menghambat kita pergi ke mana pun,” kata seseorang.

“Aku tak suka hujan. Basah!”

“Aku benci hujan karena aku takut petir.”

“Hujan membuatku kedinginan. Terik matahari jelas lebih menyenangkan.”

Tapi aku suka ketika hujan turun di pagi hari. Membangunkanku dengan rengkuhannya yang sejuk, lembut seperti pelukmu.

Aku suka hujan turun di siang hari. Ketika aku menghabiskan makan siang bersamamu di sebelah jendela, mengamati air yang menetes membentuk garis-garis di kaca.

Aku suka hujan turun di malam hari. Pulang bersamamu tanpa payung, terjebak di bawah atap sebuah rumah, mentertawakan tingkah orang-orang yang merutuk langit.

Salahkah aku bila aku mencintai hujan dengan caraku sendiri?

Salahkah aku bila aku mencintai hujan untuk diriku sendiri?

Aku suka hujan karena mengingatkanku padamu.

Tidakkah kausuka hujan, Priaku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s