Thoughts · Velocity

The Lid

Selama menghabiskan akhir pekan di sana, gue menangis sebanyak empat kali dengan empat alasan berbeda, dan yang kedua dikarenakan hal ini.

Kala itu adalah Sabtu siang setelah Race 1, dan seorang pria Asia menghampiri pintu belakang pit. Gue pikir mungkin dia seorang penggemar, dan gue tetap duduk di kursi untuk mengobrol bareng Piak. Cowo itu sendirian aja, tetap diam dan berdiri di sana sampai Jordi keluar dari ruang gantinya.

Jordi yang masih berkeringat deras sudah mengganti baju balapnya dengan seragam tim dan celana pendek hitam, pake sendal jepit dan membawa handuk kecil berwarna putih. Keluar dari ruang gantinya, tanpa menoleh ke sana kemari, Jordi segera menghampiri cowo itu dan menjabat tangannya.

“Hey, how are you?” tanya Jordi.
“I’m good! I’m good!” jawab cowo itu.

“Oh, ternyata temen Jordi,” pikir gue dalam hati.

“So, this is Kanya,” gue denger Jordi menyebut nama gue tanpa tedeng aling-aling. Gue yang tadinya menunduk menghadap layar ponsel, segera menengadah menatap Jordi yang menjulang di hadapan gue. Dan gue mendapati dia menunjuk ke arah gue.
“She’s from my fanclub. She takes care of everything,” lanjutnya, yang lalu memanggil gue untuk mendekat, “Come here, Kanya.”

Gue pun segera bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Jordi serta cowo itu, yang akhirnya gue sadari tengah mengenakan t-shirt putih dengan logo NiTEK besar di bagian depannya. NiTEK adalah suplier helm balap Jordi.

“This is Danuchai, from NiTEK Thailand. He sent my helmet here,” ujar Jordi ke gue.
“Oh! Hi!” sapa gue, dan mengulurkan tangan ke Danuchai untuk berjabat. “I’m Kanya. Nice to meet you,” ucap gue sementara Jordi langsung ngacir balik ke ruangan gantinya, entah ngapain.
“Nice too meet you too! I’m Danuchai. I’m from Thailand,” katanya ramah dan penuh senyum.
“I’m from Indonesia.”
“Yes, Jordi told me.”
“Really?”
“Yes, yes. I come here to send him the helmet.”
“Oh, I see. NiTEK is also from Thailand, right?”
“Yes, we distribute the helmets.”
“Oh, okay.”

Gue bukan orang yang jago basa-basi, jadi sekalinya gue menyadari ga punya topik tambahan untuk dibicarakan dengan Danuchai, dan sekalinya situasi makin kikuk, gue pun mundur perlahan ke arah kursi gue tadi. Lagian si Jordi kenapa sih kudu ngacir gitu aja? Zzz.

Sementara Danuchai tetap berdiri mojok di ambang pintu pit, gue kembali mengobrol dengan Piak. Saking asyiknya ngobrol, gue ga menyadari bahwa Jordi kembali keluar dari ruang gantinya, dan tiba-tiba saja mengejutkan gue dengan sebuah kotak besar di hadapan muka gue.

“For you!” serunya dengan nada antusias.
Gue begitu terkejut karena kotak itu benar-benar berada di hadapan muka gue. “What is this?” tanya gue.
“Hold it,” dia bilang.
“But what is this?!”
“Hold it!”
“But whaaatt?!” gue mulai panik ketika gue menyadari bahwa terdapat tulisan ‘NiTEK’ di sisi kotak itu.
“For youuuuu!!”
Bagi orang-orang yang udah tau tabiat gue dan Jordi, pertengkaran dan aksi bentak-bentakan ini udah ga asing lagi, tapi bagi Danuchai dan beberapa orang Althea, memang aneh dan lawak.

Di titik itu, entah kenapa, gue merasa Jordi hanya tengah berusaha untuk mengerjai gue.
“Come on, Kanya,” dia bilang.
“But what is this?!” gue masih ngotot, dan ga mau menyentuh kotak itu sama sekali, sementara tangan kiri Jordi pasti udah pegel megangin kotak itu.
“You open it and you will know!”
“Ugh! Why you always do this?!” bentak gue lagi, dan akhirnya gue menyambar kotak itu dari tangannya, meletakkannya di atas meja terdekat, yang merupakan meja meet and greet milik Althea.
“Open it,” kata Jordi dengan nada yang lebih lembut, senyum-senyum najong di sisi kanan gue.

Gue pun membuka kotak itu. Dalam adegan slow motion, gue berkata dalam hati, “Semoga ini ga nyata, ini ga mungkin nyata…”

Tapi memang nyata adanya.

Kotak itu berisi helm.

Helm balap dia!

Secara perlahan dengan tangan gemetar, gue mengeluarkan helm itu dari kotaknya, dan air mata gue mulai menggenang saat gue melihat desain helm itu. Helm itu benar-benar baru, hanya saja dihiasi dengan desain lama Jordi, yang dia pakai waktu dia masih balapan di Moto2, yang sekarang hanya dia gunakan saat uji coba.
Gue begitu emosional karena ‘perjalanan’ kami berdua dimulai ketika dia masih turun di Moto2.

Gue semakin nangis karena gue ga habis pikir. Ga habis pikir melihat benda yang tergeletak di hadapan gue itu, ga habis pikir kenapa dan bagaimana Jordi melakukan ini semua. Gue merasa ga pantas mendapatkan helm itu, dan bahkan ‘semua hal’ yang terjadi selama tiga tahun terakhir. Ini semua sudah sangat berlebihan dan gue ga tau lagi gimana caranya menghadapinya.

“Why you do this?!” bentak gue.
“It’s for you, Kanya,” kali ini Jordi tidak membalas kata-kata gue dengan bentakan, melainkan dengan nada yang lebih lembut.
“But whyyyyy?!”
“You’ve done a lot for me.”
“But I don’t deserve this! This is too much!” bentak gue lagi dengan tenggorokan tercekat, hingga nyaris ga ada suara yang keluar.
“Kanya, please, no…”
“It is a helmet. Your helmet! Are you crazy?!”
“Why you always calling me crazy?!” kini Jordi kembali membentak gue, dan seluruh isi pit mulai kembali ngetawain kita.
“Because you’re crazy! That’s the fact!”
“I’m not crazy! This is for you! From me! Okay?!”
And I started to cry again before I yelled at him, “But it’s not even my birthday!”
The whole box heard me saying that and they laughed again.

Gue juga ga habis pikir, kapan Jordi memikirkan ide ini, dan kapan menyusun rencana ini. Dan kenapa dia pilih helm? Kenapa harus helm?

Gue juga ga ngerti kapan dia kongkalikong sama Danuchai soal ini. Gue sebut kongkalikong, karena setelah gue berhenti nangis, Danuchai menyerahkan satu spidol tinta emas dan satu spidol tinta perak ke gue dan berkata, “You can give these to Jordi so he can sign the helmet for you. Tell Jordi to keep them, I will take them back later from him, okay?”
Bahkan Danuchai sudah mempersiapkan spidol untuk tanda tangan Jordi. Jadi mulai kapan Jordi merencanakan ini semua? Gua ga habis pikir!

Malamnya, kita membicarakan hal itu lagi di dalam ruang gantinya.
“Don’t forget to bring it home,” ucap Jordi, menghentikan aksi packing-nya sebelum balik ke hotel, lalu berjalan ke arah kotak helm yang dia letakkan di ujung ruangan.
“Of course not,” kata gue sambil duduk di kursi terdekat.
“It’s good, right?” tanyanya sambil berlutut di depan gue.
Gue menggeleng pelan, masih ga percaya. “This is crazy… You are crazy.”
“Nooo.”
“Yes, you are!” ucap gue frustrasi sembari menunjuk kotak itu lagi dengan jengkel.
“Why I’m crazy?!” mata cokelat Jordi kian membesar.
“Argh! Whatever!”
“Listen!” Jordi menunjuk kotak itu lagi. “This is for you. From me. You deserve this. You’ve done a lot for me. You know what? It wasn’t easy. To get this helmet, it wasn’t easy! I had to work hard to get this one for you. Because… Argh! Difficult, no?!”
“If you knew it was hard then why you still fought for it?!” gue semakin frustrasi.
Dia senyum, antara senyum lembut dan juga frustrasi. “Because you deserve this. Come on, Kanya. Please.”
“I really hate you. You know that.”
“No…”
“Yes, I hate you!”
“But why?! This is a great gift, no?!”
Gue kehilangan kata-kata. Ga tau apa yang harus gue katakan lagi.
“Come on. Answer me. Yes or no?” tanya Jordi.
Gue menghela napas.
“Tell me.”
Gue menghela napas lagi. “Of course… It is amazing… but this is too much.”
“Don’t say it’s too much!”
“What I’m doing it’s not ‘that’ big—“
“Okay stop it,” potong Jordi.
“Whatever. I hate you,” I rolled my eyes, and he giggled.

Dia terlalu baik. Dan dia ga menyadari itu.
Dia terlalu baik. Dan dia ga menyadari bahwa terkadang hal ini menjadi titik lemahnya.
Selama akhir pekan di sana, kita banyak berdiskusi dan berdebat hanya soal ‘dia terlalu baik’.
Tapi gue juga menyadari, bahwa mungkin itulah pemberian terbesar Tuhan untuk Jordi dan semua orang di sekitarnya.
Gue ga ngerti lagi gimana caranya berterima kasih ke Jordi atas segala hal yang dia lakukan untuk gue selama tiga tahun terakhir. Terlalu banyak. Terlalu istimewa. Dan ga akan lupa sampai gue tua nanti!
Thank you so much, Big Boy!

PS. Thanks a bunch also to Danuchai who delivered the lid from Thai to Sepang!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s