Splash

Langitlah Pengingatnya

Sejak pertemuan terakhir kita, aku doyan sekali memotret langit.
Entah kenapa. Mungkin karena langit satu-satunya hal yang mengingatkanku bahwa kita tidak terpisah sejauh yang kupikir.

“Lima belas jam,” jawabmu sambil mengangkat bahu ketika aku bertanya seberapa lama penerbanganmu kembali ke rumah.

Kedua alisku terangkat, mataku terbelalak.
Aku tahu seberapa jauh rumahmu dari tempat kita berpijak, tapi mendengar angka lima belas benar-benar membuatku tak habis pikir.

“Iya, lima belas jam,” kau mengangguk, meyakinkanku. “Terbang ke Doha selama tujuh… umm, delapan… jam, kemudian terbang lagi ke Barcelona,” kau menyisir rambut hitam legammu dengan jemari tangan kiri, gestur yang kusuka darimu walau jarang kulihat.

“Wow,” ucapku pelan.
Kau mengangguk lagi.
“Penyiksaan.”
Kau mendengus, “Bagian dari pekerjaan.”
“Kau pria sibuk.”
“Ya,” kau mengangguk, matamu menerawang ke lantai, seolah bangga sekaligus tak bangga pada predikat yang baru kusebut.

Aku tahu kau bangga atas apa yang kaulakukan, mengerjakan apa yang kaujalani sejak usia lima tahun, hidup dalam impian yang kaudamba sejak lama, menempuh satu-satunya jalan yang kauyakini menuju apa yang kaudefinisikan sebagai kebahagiaan mutlak.

Di lain sisi kau tak bangga atas apa yang kaulakukan, karena itu artinya kau harus berjauhan dengan keluarga dan teman, terdampar di negara lain setiap dua pekan sekali bersama orang-orang yang baru kaukenal setahun-dua tahun dan tak bicara dengan bahasa ibumu.

Diam-diam aku berharap keberadaanku di sini bisa membuatmu tak merasa sendiri, meski kau baru mengenalku tiga tahun lamanya, dan meski aku juga tak bicara dengan bahasa ibumu.

Mata cokelatmu menatapku lagi, “Kau?”
“Apanya?”
“Penerbanganmu ke rumah.”
“Dua jam. Dan bagaikan penerbangan tiada ujung. Bayangkan saja lima belas jam.”
“Aku paham. Lima belas jam memang panjang dan melelahkan.”

Aku menghela napas. “Apa yang kaulakukan sembari menunggu jam keberangkatan?”
“Tidak ada, hanya ini,” kau mengangkat kedua tangan setinggi dada, menirukan gestur bermain game di ponsel.
“Membosankan.”
“Benar. Aku selalu bosan, dan itu menyebalkan.”
“Selama lima belas jam di pesawat?”
“Lebih berat,” giliran kau yang menghela napas. “Aku tak pernah bisa tidur. Hanya beberapa menit, lalu bangun lagi. Setiap kali begitu, kupikir aku sudah melewatkan beberapa jam, nyatanya hanya beberapa menit.”

Aku mengangguk paham. “Lima belas jam, ha?”
“Yah…” kau tersenyum pasrah.

Bayangkan, durasi lima belas jam penerbangan sangatlah jauh bila kaukonversikan ke dalam jarak.
Dan hal ini membuatku sadar bahwa aku dan kau terpisah berpuluh ribu mil jauhnya.
Tapi bila lima belas jam itulah yang harus kutempuh demi bertemu denganmu lagi, mungkin aku tak akan mengeluh.

Untungnya, kau bukan pacarku, dan aku bukan pacarmu. Meski berat berjauhan denganmu, jarak ini tak akan terlalu menyiksaku hingga aku harus menangis tiap malam hanya karena merindukanmu.
Usai mengucapkan kata pisah, rasa rindu itu pasti akan sering hadir di benakku, tapi aku yakin dalam hitungan menit aku bisa melupakannya.

Dan di sini lah aku. Berjalan kaki setiap hari dari rumah ke seberang jalan, lalu menunggu angkutan umum yang memberi tumpangan padaku dalam perjalanan selama sepuluh atau lima belas menit. Setelahnya aku akan turun di pertigaan, dan berjalan kaki lagi sekitar sepuluh menit untuk mencapai kantor.

Saat itulah aku sering menengadah, mendapati langit biru atau langit berawan yang berarak pelan. Saat mengamati langit lah aku menyadari bahwa kita tak terpisah sejauh yang kupikir.
Kita sama-sama berpijak di bumi, kau tidak tinggal di planet lain, begitu pula aku.

Menengadah ke arah langit membuatku punya asa bahwa kita bisa berjumpa lagi, bahwa berjumpa denganmu tidak sesulit yang kupikir. Walau entah ini kapan akan terwujud.

Kita boleh saja terpisah jarak, tapi aku tahu di mana aku bisa menemukanmu, dan kautahu di mana kau bisa menemukanku.

Kita tidak sejauh itu.
Kita bisa berjumpa lagi.
Lima belas jam bisa kaulalui demi bertemu denganku.
Lima belas jam bisa kulalui demi bertemu denganmu.
Meski entah kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s