Splash

Dia dan Candunya

Dia. Ia adalah satu-satunya alasan mengapa aku punya begitu banyak alasan untuk bertahan. Semakin aku mengenalnya, semakin mudah bagiku berkata ‘ya’ untuk bertemu dengannya, semakin berat pula bagiku untuk berpisah, bahkan semakin berat bagiku untuk menjauh.

Setiap kali kami bercakap, aku akan menatap ponsel terus menerus dan tersenyum seperti orang bodoh. Setiap kali bertemu dengannya, aku bertanya-tanya kebahagiaan macam apa yang akan kuhadapi dan kejutan-kejutan apa yang akan ia lakukan. Namun setiap kali pertemuan itu hendak berakhir, aku bertanya-tanya apa yang akan kami lakukan setelahnya.

Aku sempat berpikir untuk berhenti, karena terkadang ini sangat berat. Kunyatakan niatku ini padanya. Ia tahu seberapa berat ini semua bagiku, tapi ia selalu memberiku beribu alasan untuk tinggal. Dialah obatnya. Dialah kekuatan itu.

Ini semua bagai candu. Tidak pahit, begitu manis. Begitu adiktif. Kau tak bisa hanya melakukannya sekali, dua kali, tiga kali… Semua ini akan terus berkelebat di dalam benakmu. Bagian tersulit adalah, kau harus mempertahankan akal sehat, harus menyadari bahwa semua ini fana, tak abadi, tak punya masa depan.

Apa yang akan kami lakukan setelah ini? Aku tak tahu. Apa yang akan terjadi pada kami? Entah. Apa kami akan bertemu lagi? Aku sungguh tak tahu. Tapi di manapun aku berada, di manapun ia berada, jiwaku akan selalu menyertainya, entah ia sadari atau tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s