Splash

Mawar Kuning dan Merah

“Aku punya sesuatu untukmu.”
“Oh ya? Apa?”
“Ini,” ia mengeluarkan sebuah rangkaian bunga mawar merah dari balik punggungnya, dan menyerahkannya padaku.
“Oh, Tuhan,” desahku ketika menatap buket itu. Mawar-mawar itu begitu besar dan segar, berdesakan dalam balutan kertas putih. Kupu-kupu pun terasa beterbangan memenuhi perutku. “Berhentilah memberiku kejutan, hadiah… apapun itu.”
“Jadi kau tak mau menerimanya?” tanyanya sembari melirik jahil.

Aku menghela napas. Rasa-rasanya aku sudah tidak tahan. Ia tak pernah mengecewakan selama aku berada di sini. Hal yang selalu ia kerjakan adalah membuatku senang. Tapi jika ini berlangsung terus-terusan, aku yakin rasa pahit lah yang akan kurasakan di akhir pertemuan ini. “Aku mau menerimanya, asal kau berjanji ini hadiah terakhir untukku,” ujarku.

Ia terkekeh geli, senyumnya begitu lebar. “Bagaimana bisa aku berjanji seperti itu? Kau sungguh ingin ini jadi yang terakhir? Kau begitu tega padaku―”
“Kau jelas tahu bukan itu maksudku,” aku mulai jengkel, tapi aku juga tak bisa menahan senyum. “Maksudku… kau sudah terlalu sering membuatku senang―”
“Jadi kauingin aku membuatmu sedih?”
“Bukan begitu!” seruku, dan ia terbahak. “Bila kau terus-terusan seperti ini, kau akan membuatku sedih ketika waktuku pulang tiba.”
“Membuatmu tak ingin pulang?” sorot matanya melembut memandangi wajahku.

Aku tak menjawab, hanya mengembangkan seutas senyum, karena ia sudah pasti tahu jawabannya.
“Kurasa itulah mauku,” bisiknya. “Jadi, kau mau menerima bunga ini atau tidak? Jika tidak, kuberikan saja pada gadis lain.”
“Boleh. Mungkin gadis itu orang yang lebih tepat untukmu.”

“Lebih tepat untukku? Apa maksudnya itu? Kau merasa tak tepat untukku? Tepat soal apa?” tatapannya kembali usil. Ia benar-benar pandai membalikkan kata-kata kepada lawan bicaranya.
Aku memutar bola mata, dan ia kembali terkekeh. “Jadi?” ia kembali menyodorkan rangkaian bunganya.

Aku berdecak memandanginya. “Kenapa mawar merah? Memangnya kau tak tahu apa artinya?”
“Tentu aku tahu,” senyumnya kian lebar.
“Aku sangsi.”
“Aku tahu kok. Aku tidak asal-asalan.”
“Kau sungguh paham artinya?”
“Ya.”
“Mengapa kau tak memberiku mawar kuning?” pancingku.
“Karena mawar kuning simbol persahabatan,” ia mengedipkan sebelah matanya.

“Dan mawar merah?”
“Bila aku menjawab pertanyaanmu yang satu itu, aku khawatir pipimu bersemu merah hingga tak bisa dibedakan dengan buket ini.”

Sialan, ucapku dalam hati. Aku yakin wajahku sudah semerah buket itu! “Baiklah!” seruku jengkel sembari merebut buket bunga itu dari tangannya. “Selesai sampai di sini!” seruku lagi sembari berjalan menjauh.

Meski begitu, aku bisa mendengar gelak tawanya, begitu pula derap sepatunya yang mendekat dari belakang. Lengan besarnya melingkar di pundakku tiba-tiba, menghangatkan sekaligus menyejukkan tubuhku.
Aku kembali menghela napas, menempelkan sebelah pipiku di dadanya ketika ia menarikku ke dalam rengkuhan. “Terima kasih, kau terlalu manis…” ucapku.

“Kau juga. Aku benci ketika ingat kau akan pulang. Aku ingin membuatmu senang selagi aku bisa. Jadi jangan marahi aku. Kau paham?”

Mau tak mau aku tertawa mendengarnya. Tapi aku tetap menyadari bahwa apa yang ia lakukan padaku bagaikan pisau bermata dua. Meski begitu, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menikmati sisa waktu bersamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s