Splash

Surat Cinta

Surat cinta.

Aku tidak ingat kapan pertama kali menulis surat cinta, dan kepada siapa aku mengirimnya. Surat cinta yang kuingat adalah surat cinta yang kukirim kepada salah satu kakak kelas saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Kukirimkan dengan sebatang cokelat. Tapi tentu saja itu bukan mauku.

Kami, para siswa baru diwajibkan menuliskan secarik surat cinta untuk kakak-kakak yang kami idolakan selama masa orientasi siswa. Tak hanya surat, kami juga wajib menyertakan cokelat. Dan tentu harus dikirimkan kepada yang berlawanan jenis dengan kami.

Aku benci sekali mengerjakan tugas itu, apalagi ibu terus meledek. Aku bukan tipe orang yang blak-blakan soal cinta pada ibuku, jadi menulis surat cinta membuatku kikuk. Tapi tentu saja ibu membantu, membelikan cokelat di toko kelontong terdekat.

Kakak kelas yang hendak kukirimi surat cinta adalah… sebut saja Azka. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung yakin ia idola sekolah. Ia tinggi, rapi, tampan dan… kapten tim basket. Tipikal tokoh utama lelaki di novel-novel remaja yang kerap kubaca.

Ketika menulis surat cinta itu untuknya, aku juga yakin ia bakal menjadi kakak kelas dengan surat cinta terbanyak, dengan cokelat terbanyak pula tentunya. Jadi aku menulisnya dengan malas-malasan, karena aku tahu sudah pasti ia tidak membacanya. Aku sendiri hingga kini tak ingat apa yang telah kutulis untuknya.

Setiap kali berlatih basket bersamanya, di satu lapangan yang sama, aku sendiri kerap merasa geli. Kami jarang berinteraksi, tapi ada kalanya ia memberiku saran untuk memperbaiki lay up-ku yang payah. Aku berkata pada diriku sendiri ketika melihatnya berlatih, “Ia tidak tahu aku pernah mengirim surat cinta padanya.” Tapi aku sama sekali tak berharap ia tahu.

Surat cinta kedua yang kutulis adalah untuk… sebut saja Leo. Leo adalah pria dari Negeri Antah Berantah yang kerap datang di mimpiku. Aku hanya mengenal bayangannya, walau sejatinya ia makhluk nyata.

Seperti Azka, ia tinggi semampai. Rambutnya hitam legam, senyumnya lebar dan konyol. Yang paling kusuka darinya adalah mata cokelatnya yang besar dan selalu bersorot ceria. Ia juga rendah hati dan begitu ramah.

Jika surat cinta untuk Azka kukirim melalui ketua kelas, surat cinta untuk Leo kuantarkan sendiri ke depan wajahnya, yakni saat aku benar-benar bertemu dengannya. Ia tersenyum lebar saat menerimanya, dan tak sabar ingin membacanya.

Berbeda dengan surat cinta yang kutulis untuk Azka, surat cinta untuk Leo kutulis dengan sungguh-sungguh. Aku sangat berharap surat itu berarti untuknya, dikenang olehnya, dan ia simpan dengan baik di salah satu sudut rumahnya… yang begitu jauh dariku, di Negeri Antah Berantah sana.

Meski aku menulisnya sepenuh hati, aku yakin surat itu tak ia pandang sebagai ‘surat cinta’. Jika kau juga membacanya, kau juga akan berpikir demikian. Dan aku juga memang tak pernah memberitahu Leo bahwa itu sebuah surat cinta.

Ia langsung membacanya di hadapanku. Aku tak mengira ia begitu antusias. Aku pun berdiri di sebelahnya, memperhatikannya membaca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kugores untuknya.
Setidaknya surat cintaku membuatnya tersenyum lebar. Dan senyum lebarnya membuatku merasa sejuk siang itu, seolah pohon rindang melindungiku dari sinar matahari yang begitu terik, merengkuhku dengan lembut.

Aku takut surat cintaku terlalu kekanakan, terlalu posesif. Tapi dugaanku salah. Usai membacanya, senyum Leo semakin lebar. Mata cokelatnya yang besar berbinar ceria. “Ini manis! Terima kasih banyak! Biarkan aku memelukmu,” ujarnya sembari merentangkan kedua lengannya yang kokoh.

Tentu aku tak bisa menolak. Aku menyambut pelukannya yang hangat… atau sejuk? Entahlah. Aku tak tahu bedanya, yang jelas terasa menyenangkan dan haru.

Meski Leo tak pernah tahu bahwa apa yang ia baca merupakan surat cinta, aku tetap senang apa yang kugores berhasil membuatnya bahagia, membuatnya berarti, membuat harinya menyenangkan.

Semoga Leo selalu merasa seperti itu, karena ia memang seseorang yang ‘berarti’ bagi seseorang ‘yang lain’.

Jalani hidupmu dengan riang, Leo. Aku tahu kau akan selalu begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s