Splash

Tak Mengeluh Soal Apapun

Kami akhirnya bertemu lagi siang itu, siang yang seharusnya begitu panas, namun malah sejuk karena diguyur hujan gerimis. Kami berdiri berseberangan, saling mengembangkan senyum saat akhirnya bertemu pandang setelah setahun lamanya. Kami saling meneriakkan nama untuk memastikan bahwa kami tak salah orang.

Aku segera memakai topiku secara terbalik, menutupi seluruh tubuhku dengan kemeja sebagai pengganti payung, lalu menyeberang ke arahnya. Aku tertawa riang, dan aku bisa mendengar tawanya juga. Ketika kami akhirnya berdekatan, ia segera merentangkan lengannya, lalu memelukku erat. “Oh, Ka… Kau baik-baik saja?” tanyanya sembari mengusap punggungku.

“Ya, tentu.”
“Ya Tuhan, aku senang bertemu denganmu lagi,” katanya. Aku terkejut, karena seharusnya akulah yang mengatakannya lebih dulu.
“Begitu juga aku.”
“Apa kabarmu?” tanyanya dengan suara tinggi, seolah kami tak bertemu berabad-abad tanpa bertukar kabar sekalipun.
“Tentu kabarku sangat baik!” jawabku tak kalah antusias.
Ia tertawa dengan suaranya yang dalam, tentu ia tahu maksudku. Aku bertemu dengannya lagi, jelas kabarku jadi sangat baik.

Ia pun menyuruhku masuk ke dalam ruang gantinya, menyimpan semua barangku di sana, termasuk topi dan kemejaku yang basah. Setelahnya, ia mengajakku masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia memperkenalkanku kepada seluruh rekan kerjanya, yang semuanya baik, ramah, lucu dan penuh senyum.

Kami pun melangkah ke ambang pintu, menghadap jalanan yang basah karena hujan. Awalnya begitu kikuk, tapi tak lama. Karena kami berhasil menemukan topik apa saja untuk dibicarakan. Tak perlu waktu lama untuk mengeluarkan sifat ‘gila’ kami, karena dalam hitungan menit kami bisa terbahak-bahak dan saling mengomel seolah tak ada orang lain di sekitar kami.

Tak terpikir bagiku untuk menjalani hari-hari yang begitu mengesankan, begitu manis, begitu penuh kejutan darinya. Aku hanya orang biasa, dan dia sang bintang. Aku rakyat jelata, dia sang pangeran. Aku tidak pantas mendapat ini semua, tapi ia memperlakukanku seolah aku ini istimewa. Aku bukan siapa-siapa!

Hari-hari itu tak hanya kami jalani dengan bersenang-senang, ada kalanya ketika kami harus menghadapi kesulitan. Mengapa aku menyebut kata ‘kami’? Karena ketika ia bahagia, aku ikut bahagia. Ketika ia kesulitan, maka aku juga ikut merasa jatuh. Tapi justru hal macam ini membuat pertemuan kami begitu ‘lengkap’; kami tidak hanya bersenang-senang, tapi juga saling dukung ketika sama-sama merasa sedih.

Setiap kali sehabis turun lintasan, ia selalu menghampiriku usai berdiskusi dengan seluruh anggota timnya. Dengan keringat bercucuran, dengan wajah lelah yang memerah, ia bersemangat menceritakan semua hal yang ia alami di luar sana padaku, tanpa aku bertanya maupun meminta. Bagiku ini begitu berarti, karena artinya ia menaruh kepercayaan padaku.

Dalam pertemuan ini pula, aku kian menyadari bahwa dia yang mengenakan baju sehari-hari dan dia yang mengenakan baju balap, adalah dua orang yang sungguh berbeda.

Dia periang, terkadang bertingkah kekanakan. Dia ramah dan penuh senyum. Semua orang tahu ia begitu. Itulah alasan mengapa orang menyukainya. Itulah alasan mengapa aku memilihnya, menyukainya dan mendukungnya. Ia bisa menjadi pria paling lembut yang pernah kukenal, bicara dengan suara rendah, berlaku begitu sopan, begitu perhatian, dan bahkan begitu manja. Ia bahkan bisa menjadi sosok paling humoris yang pernah kutahu, melontarkan lelucon atau bertingkah konyol.

Tapi tak banyak orang yang melihat keseriusan dan sikap tegasnya. Ia bisa menjadi orang paling galak ketika sudah bicara soal kecepatan, yakni hal yang ia cintai sejak usia tiga tahun. Ia tidak sebaik-hati itu bila bicara soal motornya. Jika ia tak suka soal suatu hal, maka ia sungguh berkata ‘tak suka’ tanpa tedeng aling-aling.

Ia salah satu pria paling tegas yang pernah kukenal. Ia paham benar setiap hal yang ia katakan. Ia paham benar apa yang ia inginkan. Ia paham benar soal apa yang ia lakukan, dengan segala konsekuensi dan segala bahaya yang mungkin akan ia dapat. Bahkan kadang aku tak percaya pada penglihatanku sendiri, bahwa pria yang berdiri atau duduk di sampingku, di hadapanku ini adalah pria yang melesat secepat kilat di lintasan, berguling menahan sakit ketika terjatuh.

Ia salah satu pekerja paling keras yang pernah kutahu. Saat aku memperhatikannya, aku bahkan merasa malu soal diriku sendiri. Dibanding dirinya, aku jelas jauh lebih pemalas. Setiap harinya, mulai pukul 8.00 pagi hingga 8.00 malam, ia terus bekerja, berdiskusi dengan seluruh anggota timnya agar lebih cepat, cepat dan cepat setiap kali turun lintasan. Ia hanya berhenti ketika jam makan siang tiba. Tidak ada waktu untuk duduk atau berebah santai.

Jika tidak sedang turun lintasan, ia akan menatap layar komputernya untuk menonton siaran ulang setiap sesi, memperhatikan dirinya sendiri, mencari apa yang bisa ia perbaiki. Ia juga memperhatikan para lawan, mencari apa yang membuat mereka lebih cepat darinya, mencari titik lemah mereka, atau mencari kiat yang bisa ia tiru agar lebih cepat bila kembali ke lintasan nanti.

Jika tidak sedang menghadap layar komputernya, maka ia akan duduk di belakang meja kerja mekanik dengan tumpukan kertas di tangan, dengan lembar-lembar kertas lain berserakan di hadapannya. Ia akan mempelajari semua data yang ia kumpulkan, membandingkannya dengan milik rekan setim, mencari apa yang bisa ia perbaiki.

Tak jarang ia melakukan itu semua dengan baju balap yang masih menempel di tubuhnya dalam cuaca yang begitu panas. Iya, baju balap yang berat itu, baju balap yang tebal itu, baju balap yang basah karena keringat itu. Ia bahkan tak buru-buru mencuri kesempatan untuk membersihkan dan merapikan diri dulu sebelum bekerja lebih lanjut.

Senyumnya mengembang, mata cokelatnya berbinar ketika menghampiriku untuk istirahat sejenak. Saat ia rehat, kami bisa mengobrol soal apa saja, bertukar lelucon-lelucon bodoh atau bertingkah konyol agar kami tertawa lepas.

Dan saat ia rehat, ia tak lupa memperhatikanku. Ia akan memaksaku untuk bersenang-senang dan mencari kesibukan selagi menunggunya bekerja. Ia khawatir aku merasa bosan, ia cemas aku merasa lelah hanya karena menunggu ia selesai bekerja. Selama aku berada di sana, ia selalu mengingatkanku untuk makan siang dan makan banyak-banyak. Menurutnya, cuaca panas membuatku harus rajin mencari asupan energi. Ia selalu menemaniku, mulai dari mengambil peralatan makan hingga memilih menu, dan ia tak akan meninggalkanku sebelum aku benar-benar duduk manis di belakang meja makan menghadap sepiring pasta.

Tiap kali kami selesai mengobrol, ia selalu berpamitan padaku saat harus kembali ‘bekerja’. “Aku harus kembali bekerja. Apakah kau keberatan?” tanyanya setiap kali. Kuulangi, setiap kali!
Padahal, jawabanku juga selalu sama saja, “Tentu aku tidak keberatan. Selamat bekerja!”
“Jangan pergi ke mana-mana,” katanya setiap kali usai aku menjawab. “Aku hanya bekerja sebentar. Sebentaaarr saja. Tunggu aku,” tuturnya, walaupun yang ia sebut ‘sebentar’ itu bisa berlangsung dua jam lamanya.
Sebelum benar-benar hilang dari pandanganku, ia akan tersenyum lebar, tersenyum kekanakan, dan tak lupa mengedipkan sebelah mata.

Aku jelas tidak akan ke mana-mana. Aku juga tidak merasa bosan menunggunya bekerja. Aku juga tidak merasa lelah. Justru aku senang bisa begini, menunggunya bekerja sembari memperhatikan semua hal yang ia lakukan. Ayolah, bagaimana bisa aku merasa bosan dan lelah? Ia yang mengajakku kemari, dan ajakan itu membuatku sangat bahagia. Dan bila kau bahagia, kau tak akan mengeluh soal apapun!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s