Splash

¡Hola, Mallorca!

“Aku minta maaf atas kelakuannya,” kata Jorge sangat menyesal, setelah gadis cilik itu pergi ke kamar tidurnya. “Tidak semestinya kau mendapat sial di hari pertamamu berkunjung ke Mallorca.”

Anak perempuan Jorge yang masih berusia tiga tahun, Sabita, baru saja menyiramkan milkshake cokelat pada baju putih Rein. Anak itu sangat tidak senang ketika Rein masuk ke dalam hidupnya, terlebih ia tahu bahwa Rein adalah teman kecil ayahnya.

Dua setengah tahun yang lalu Bianca meminta Jorge menceraikannya karena ia tidak suka pria itu balapan di 13 negara berbeda dalam satu tahun, apalagi ada 18 seri MotoGP di setiap tahunnya. Jorge menyetujuinya, karena Bianca terus mabuk-mabukkan setiap malam dan wanita itu selalu membawa laki-laki berbeda ke rumah ketika Jorge berada di luar negeri, alih-alih mengurus Sabita yang pada saat itu masih bayi. Jorge mencintai balapan, dan mencintai anaknya. Ia lebih memilih balapan dan Sabita, daripada harus mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak dinaungi cinta lagi.

Benar saja, setelah bercerai, Bianca tidak hanya meninggalkan Jorge, tapi juga anak kandungnya, Sabita. Jorge tidak tahu pasti dimana wanita itu tinggal sekarang, tapi dua tahun lalu Jorge dengar Bianca tinggal di Moscow, Rusia, dan menikah dengan seorang konglomerat. Jorge tidak peduli, yang ia perlu lakukan hanyalah menyayangi dan mengasihi Sabita meski ia menjadi orang tua tunggal.

Tapi Jorge juga tidak bisa berbuat banyak. Gadis kecilnya itu agak nakal, dan ia menyalahkan dirinya sendiri untuk itu. Dalam setahun, Jorge harus meninggalkan Sabita selama berminggu-minggu untuk balapan, dan selama itu ia diurus kedua orang tua Jorge. Jadi, tidak heran jika kelakuan Sabita seperti itu.

Meski begitu, bagi Jorge, Sabita adalah anak yang manis. Ketika mendengar ayahnya akan pulang ke Mallorca, Sabita selalu meminta neneknya untuk memasak sesuatu untuk Jorge, dan ia bilang ia harus ikut andil dalam pembuatannya. Sabita menjadi orang pertama yang menjemputnya di pintu masuk rumah ketika ia pulang. Sabita adalah orang yang memberinya senyuman paling lebar ketika ia pulang. Saat Jorge sudah duduk di sofa, gadis kecil itu akan mencoba memijat bahu atau kaki ayahnya, seolah Jorge baru saja bekerja keras. Sabita akan tidur bersamanya ketika ia berada di rumah. Sabita akan terus menghujani Jorge dengan ciuman sayang… dan lain-lain.

“Tidak apa-apa.” Rein tersenyum sekilas, lalu menatap kemeja putihnya yang berlumuran cokelat. “Ia tidak menyukaiku. Sama sepertimu.”

“Jangan membuat masalah lagi,” Jorge memohon.

“Dia mewarisi genmu, Sayang.”

Jorge tahu itu sindiran. Ia sangat amat paham bahwa itu sindiran. Dan Rein memanggilnya ‘sayang’? Oh, yang benar saja! Seandainya panggilan itu tidak disebutkan dengan nada sinis dan tajam, melainkan diucapkan dengan lembut. Well, Jorge akan bahagia mendengarnya. Tapi tidak. Ini bukan saatnya ia bermimpi Rein akan menjadi gadis lembut untuknya. Gadis ini sedang mengibarkan bendera perang padanya—seperti yang biasa mereka lakukan sejak kecil. “Aku sudah minta maaf, Rein,” balas Jorge. “Dan jangan cari gara-gara!”

“Siapa yang cari gara-gara? Memangnya matamu buta? Halooo!” Rein melambaikan tangannya tepat di depan wajah Jorge. “Aku tidak pernah punya niat jahat terhadap putrimu. Aku tadi dengar dia minta milkshake cokelat padamu, tapi kau tidak mau membuatkannya. Jadi sebagai orang yang peka, aku membuatkan satu untuknya. Apa itu salah?” tanya Rein. “Tapi kalian memang sama-sama tidak menyukaiku, jadi ia menyiramkan milkshake itu padaku. Kau sebagai ayahnya pasti bangga. Iya ‘kan? Jawab saja ‘iya’!” serunya. “Kalau saja tadi kau membuat milkshake itu untuknya, kita tidak akan ribut begini. Sudah puas melihatku menderita selama dua puluh dua tahun? Ayo, tunjukkan atraksi lain yang bisa membuatku lebih jengkel daripada ini!”

“Rein,”

“Tidak ada cacing tanah, hah?” tanya Rein, mengungkit masa kecilnya ketika Jorge menakut-nakutinya dengan binatang yang paling ia takuti itu. “Punya ular derik? Kalau punya, tunjukkan padaku sekarang. Buat aku lari terbirit-birit!” pekiknya. “Kakimu tidak sedang cedera ‘kan? Silahkan menjegalku sampai kakiku patah, tidak hanya terkilir!” Rein mengungkit kejadian 8 tahun lalu, ketika Jorge menjegalnya di lorong kamar Roland, kakak sepupu Rein. Kakinya terkilir karena ulah Jorge itu.

Oh, come on! Simpan saja air matamu itu,” Jorge balas membentak ketika menyadari mata Rein berkaca-kaca. Lalu ia pergi ke garasi. Di sanalah tempat favoritnya, dimana motor-motornya terparkir rapi.

Rein tidak mampu berpikir lagi. Jadi ia berlari menuju kamarnya di lantai atas. Ia segera mengganti pakaiannya dan menangis terus-menerus hingga tertidur.

***

Rein mendengar ketukan di jendela kamarnya. Ini pukul 11 malam. Oh, ia baru saja bangun. Matanya masih sangat berat. Ia masih mengantuk.

Ketukan di jendela. Tiba-tiba Rein teringat peristiwa tadi siang, ketika ia bertengkar dengan Jorge di dapur. Rein masih terlalu mengantuk untuk menyadari apa yang akan ia alami. Jadi dengan langkah gontai ia berjalan ke arah jendela kamarnya, dan membuka tirai dengan malas. Ia melihat seseorang di sana, tapi tidak jelas. Bukannya ia takut sosok itu hantu, tapi ia malah membuka jendelanya lebar-lebar hingga udara dingin menerpa wajahnya. Dan ia segera menyadari siapa yang ada di hadapannya. Ya, itu Jorge. Benar-benar Jorge.

Dengan terdiam seribu bahasa karena semua nyawanya belum terkumpul kembali setelah bangun tidur, Rein memandang Jorge heran, lalu memandang ke bawah dan menyadari Jorge menaiki tangga.

“Sudah bangun, Sayang?” tanya Jorge sambil membelai pipi Rein lembut dengan sebelah tangannya.

“Hmm?” tanya Rein heran, juga berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya bermimpi.

“Aku tanya, kau sudah bangun?” ulang Jorge. “Boleh aku masuk?” Namun sebelum Rein menjawab, Jorge langsung melompat masuk ke dalam kamar Rein melalui jendela yang besar itu.

“Mau apa kau?” tanya Rein sambil memperhatikan Jorge yang menutup kaca jendela dan tirainya. “Bagaimana dengan tangganya?”

“Itu tangga Mario. Ia ada di bawah sana, dan ia akan membawanya pulang,” jawab Jorge. Mario adalah tetangga Jorge yang berasal dari Italia dan masih berusia 25 tahun. Jadi, darah penggemar balap dan sepakbola mengalir di tubuhnya. “Kau tampak cantik dalam cahaya remang seperti ini,” katanya. “Eits! Tidak, Rein. Aku tidak sedang mempermainkanmu, dan kumohon percayalah, aku tidak mabuk,” tambahnya cepat sebelum Rein memprotes.

“Jadi, berarti kau sudah sinting.”

“Sial, yang satu itu luput dari perkiraanku.” Jorge mengumpat pada dirinya sendiri, tidak mengira Rein punya bahan lain untuk memprotes. “Ya, baiklah, kau boleh bilang aku sinting. Kau boleh mengataiku apapun yang kau mau.”

“Tidak ada kata lain yang terlintas di kepalaku. Jadi untuk sementara aku hanya mengataimu sinting,” ujar Rein yang sekarang telah sepenuhnya sadar dari rasa kantuk.

Jorge tersenyum, Rein dapat melihat gigi-giginya yang rapi dan bibirnya yang tipis. Senyum itu dapat membuat Rein meleleh seketika meski selama bertahun-tahun ini Rein hanya melihatnya di TV dan gambar-gambar di internet, dan padahal Jorge dipisahkan oleh jarak beribu-ribu mil dengannya. “Aku minta maaf.” Jorge menggapai kedua tangan Rein dan menggenggamnya erat. “Aku minta maaf atas kelakuan Bita tadi siang. Aku sungguh minta maaf.” Jorge menghembuskan napas yang sepertinya menyesak dada. “Aku ingin kautahu bahwa hal semacam ini juga sangat membebaniku.”

Rein terlalu ‘meleleh’ untuk berkata-kata, jadi ia hanya mencoba bertahan di alam nyata dan menyimak kata-kata pria yang dipujanya secara diam-diam sejak kecil itu.

“Kalau kaukira aku tidak menyukaimu… Well,kau akan mengerti bahwa dugaanmu itu salah, sangat salah.” Jorge terdiam begitu lama, ia hanya menekuri tangan Rein yang halus dan mengusapnya dengan lembut seolah tangan Rein adalah benda berharga. Namun gadis di hadapannya itu tidak mengerti kenapa Jorge tidak mau menatap matanya. “Aku merindukanmu.”

“Hah?” tanya Rein sambil memandang wajah Jorge heran, seolah bertanya ‘tidak salah nih?’.

“Hei, sadarlah.” Jorge menepuk-nepuk pipi Rein lembut dengan gemas. “Iya, aku mengakuinya. Kau tidak bermimpi. Aku merindukanmu.”

“Haaaahh?” Rein masih tidak bisa menerima kenyataan.

“Wajahmu tampak bodoh.”

“Kau sendiri juga terlihat bodoh.”

“Ayo, peluk aku,” pinta Jorge.

“Memelukmu? Yang benar saja.”

“Ya sudah kalau kau tidak mau. Biar aku saja.” Jorge menghambur memeluk Rein dan mengayun-ayunkan gadis itu ke sana kemari dengan lembut. “Katakan aku sinting.”

“Ya, kau sinting,” kata Rein dalam pelukan Jorge.

Jorge dapat mendengar gelak tawa Rein. Suara gadis itu mengelilinginya, dan membuatnya bahagia.

“Gencatan senjata?” Rein menawarkan, setelah ia mampu menengadah untuk menatap Jorge.

Jorge sangat gemas menatap wajah merah Rein yang menyandarkan dagu di dadanya yang bidang. “Ouch. Tawaran yang berat.” Jorge berpura-pura.

“Ayolah…” Rein memohon. “Seumur hidupku, itulah yang kuinginkan.”

“Gencatan senjata? Itu tawaran yang tidak menarik,” cibir Jorge. “Bagaimana kalau kita ‘buang’ saja senjata kita?”

“Hmm, kurasa tawaranmu lebih menarik dari tawaranku.” Rein mengakui, membuat Jorge ‘terbang’.

“Kuanggap kau sudah bilang ‘ya’ atas tawaranku,” kata Jorge senang.

“Jadi kita sudah baikan?”

“Kau menginginkannya ‘kan? Tentu saja, karena apapun untukmu.”

***

Pagi itu, Rein merasa hangat ketika ia bangun tidur. Tidak, ini bukan karena selimutnya, tapi karena seseorang sedang memeluknya. Oh, ini tangan Jorge. Pikirnya. Ia menggenggam sebelah tangan Jorge dan pria itu semakin erat memeluknya. Tapi Rein ingin mengamati wajah Jorge ketika tidur. Jadi ia berbalik, dan menatap wajah pria itu.

Rein pernah membaca salah satu forum di internet yang membahas Jorge Joaquin. Salah satu gadis mem-posting pendapatnya terhadap salah satu foto Jorge dan berkata bahwa pria itu memang terlihat tampan dari sudut manapun. Rein rasa gadis itu benar. Jorge bahkan tampan ketika ia tidur. Rein membelai pipi Jorge dengan sayang, menyusuri dahi, alis, hidung, serta rahangnya yang kokoh.

“Mengagumiku, Lady?” gumam Jorge tiba-tiba, namun tidak membuat Rein kaget, dan ia mempererat pelukannya.

“Kalau aku boleh tanya, Tuhan menciptakanmu dengan apa sih?”

“Ya, tanah dong. Memangnya apa lagi?” jawab Jorge enteng, masih memejamkan matanya.

Lalu, kau pasti pahatan ciptaan Tuhan yang paling indah. Kata Rein dalam hati. “Kau harus pergi dari sini sebelum Bita bangun.”

“Tidak ada yang memanggilnya Bita selain aku. Orang lain memanggilnya Sabita,” kata Jorge yang membuka matanya, menatap Rein. “Tapi kau bukan orang lain.”

Rein meringkuk dalam pelukan Jorge, menempelkan sebelah telinganya pada dada Jorge hingga ia bisa mendengar detak jantung pria itu. Tapi kau bukan orang lain. Kalimat itu sungguh berarti baginya. “Sampai kapan ia begitu terhadapku? Sampai kapan ia benci padaku?”

“Suatu saat nanti semuanya akan berubah,” kata Jorge menenangkan setelah mendengar nada putus asa dari Rein. Ia mencium kening Rein, lalu menggeliat, perlahan melepaskan pelukannya. “Kau benar, aku harus pergi dari sini sebelum bocah itu bangun.”

Rein merasakan kehilangan. Kehilangan perlindungan, kehilangan rasa aman, nyaman, sayang…

“Tapi sayangnya aku tidak mau meninggalkanmu.” Jorge kembali memeluk Rein erat. “Bolehkah aku tidur di sini sampai siang?”

Rein tertawa, merasa lega. “Kau harus mengantar Bita ke sekolah.”

Jorge tersenyum jahil, “Akan kubuat Bita merengek padamu untuk ikut mengantarnya ke sekolah suatu saat nanti.”

Rein tertawa lagi. “Dengan senang hati aku akan ikut,” katanya tulus. “Sudah, sana pergi. Aku ingin tidur lagi.” Rein berbalik, membelakangi Jorge.

“Tidak denganku?” Jorge menopangkan dagu di atas bahu Rein, memasang wajah kekanakan.

“Jorge, aku bukan istrimu,” Rein mengingatkan, melingkarkan lengannya ke belakang, pada leher Jorge. “Tidak seharusnya begini.”

“Tapi…” Tenggorokan Jorge tercekat. Ia tidak mampu meneruskan kalimat yang ingin ia lontarkan pada Rein. “Baiklah. Sampai nanti.” Jorge mengecup sebelah pipi Rein lalu pergi dari kamar gadis itu.

***

Berminggu-minggu kemudian.

“Di sini sangat panas. Aku nyaris tidak tahan,” ujar Jorge yang menelepon Rein dari Malaysia. “Konsentrasiku hilang.”

Calm down. Relax,” kata Rein.

“Ya, aku berusaha fokus selagi balapan Moto2 masih berjalan.” Jorge menguap, lalu melanjutkan. “Bita sudah bangun?”

“Belum.”

“Baiklah. Sampaikan peluk ciumku untuknya ketika ia bangun.”

“Oke. Kami akan menontonmu.”

Alright, thanks. Talk to you soon.”

Rein segera mengembalikan telepon wireless itu pada tempatnya, dan melanjutkan kegiatannya mengupas wortel.

“Aunty…”

Rein mendengar suara Sabita dari lantai atas. Panjang umur. Baru saja ia dan Jorge membicarakannya, dan akhirnya anak itu bangun juga. Rein sangat gemas mendengar suara lucunya itu. “Ya, Bita. Ada apa? Kau sudah bangun?” jawab Rein dari dapur.

Peristiwa itu begitu cepat. Tiba-tiba Rein mendengar suara gaduh dan teriakan Sabita. Tahu-tahu ia melihat Sabita tergeletak di ujung tangga.

“BITA!!” pekik Rein histeris, dan ia segera berlari menghampiri Sabita yang menangis. Sabita baru saja ‘terjun bebas’ melalui tangga. “Oh, ya Tuhan! Sayang, kau tidak apa-apa?” Tanpa pikir panjang Rein meraih dan menggendong gadis kecil itu.

“Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiittt!!!” teriak Sabita sambil memegangi tangan kirinya. “Sakit, Aunty! Sakiiiiiiiiiiiittt!!! AUNTYYYYY!!!”

Rein segera memeriksa tangan kiri Sabita, khawatir jika ia patah tulang. Tapi sepertinya tidak, dan Rein sangat bersyukur akan hal itu. “Gerakkan tanganmu, Sayang. Kita lihat apa yang salah.” Sabita yang masih menangis kencang menurutinya, dan tangannya bergerak normal. “Kepalamu tidak apa-apa? Ada yang sakit di kepalamu?” Rein merasa daerah kepala lah yang penting, karena jika sesuatu terjadi pada kepala Sabita, maka mungkin akan timbul masalah.

Sabita tidak menjawab, tapi ia tetap menangis histeris dan terus memegangi tangan kirinya.

Ssshh, tidak apa-apa, Sayang. Kau gadis yang kuat. Hmm?” Rein mengayun-ayunkan Sabita dengan sayang, dan terus mengelus tangan kirinya dengan lembut dan meniupnya seolah itu akan mengurangi rasa sakitnya. Rein membawa Sabita ke beranda belakang, duduk di ayunan, dan memangku gadis itu. Perlahan-lahan tangisnya hilang, dan sepertinya ia menikmati pelukan Rein. “Merasa lebih baik, Bita?” tanya Rein memecah keheningan.

Sabita hanya menggumam, tidak terlalu jelas. Tapi ia membenahi posisi duduknya, seolah ia masih ingin dipeluk oleh Rein. Ia tidak ingin berkata bahwa tangannya sudah tidak sakit hingga setelah itu Rein dapat meninggalkannya. Tidak, ia tidak mau.

“Kau mau kuantar ke Dr. Zhu?” tanya Rein, tapi ia dapat merasakan gelengan kepala. “Tapi kauyakin kau baik-baik saja?”

Tiba-tiba Sabita merenggangkan pelukan, lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya, menunjukkan pada Rein bahwa sendi-sendinya tidak apa-apa—tanpa sepatah katapun. Lalu, yang mengejutkan Rein adalah, gadis itu memeluknya lagi, seolah betah berada sedekat ini dengan Rein.

“Kau merindukan Daddy?”

Sabita menengadah, menatap Rein dengan mata sembab, lalu mengangguk perlahan.

“Besok Daddy akan pulang.” Rein menenangkan, mengelus pipi Sabita dengan sayang. Astaga, lucunya anak ini! Batin Rein. “Balapannya sebentar lagi dimulai. Bagaimana kalau kita menontonnya bersama?”

Sabita mengangguk lagi.

“Baiklah. Mau berjalan sendiri atau kugendong?” Sabita terlihat bimbang. Tapi ia memilih untuk digendong. Dan hal itu membuat Rein sangat senang!

“Kauingin sarapan apa? Akan kubuatkan kalau kau mau,” kata Rein sembari membawa Sabita ke ruang keluarga dan mendudukkannya di sofa.

Scrambled egg dan roti panggang,” jawab Sabita. “Dan susu.”

“Baiklah. Ada lagi?” tanya Rein.

“Aku mau tiga telur.” Sabita menunjukkan tiga jarinya yang mungil pada Rein dan membuat gadis itu sangat gemas padanya.

“Wow, makanmu banyak ya! Tapi aku akan menurutimu. Tunggu di sini ya!”

***

“Enak?” Rein melihat Sabita mengangguk. “Boleh minta?” godanya. Namun tanpa disangka-sangka, Sabita menyuapkan sesendok scrambled egg pada mulut Rein. “Oh, tidak kusangka scrambled egg buatanku asin begini! Dan kaubilang enak, Bita? Kau tidak salah?”

Sabita tertawa geli. “Tidak salah kok. Ini enak! Aku suka asin!”

Ini pertama kalinya Rein melihat Sabita tertawa karenanya. Ia merasa senang karena sepertinya anak itu mulai menerimanya. Mereka menghabiskan pagi itu bersama, menonton Jorge balapan di Sepang, Malaysia. Mereka berteriak-teriak bersama melihat aksi-aksi pembalap MotoGP yang saling menyalip.

“Kau tahu berapa kali Daddy memperoleh podium sepanjang karirnya di MotoGP?” tanya Rein.

“Lima puluh dua!” seru Sabita.

“Memangnya kautahu lima puluh dua itu sebanyak apa?”

Sabita tertawa manja. “Aaaa… aku tahu.” Ia masih bersekolah di tingkat playgroup, tapi ia sudah mampu berhitung bahkan sejak ia belum sekolah.

“Bagaimana menurutmu, Sabita? Apakah Jorge Joaquin akan memperoleh podium kali ini?” tanya Rein sambil menirukan gaya bicara komentator balap.

“Yup! Jorge Joaquin akan berada di podium!”

“Podium yang mana?”

“Yang tengah dan yang paling tinggi!” Sabita mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi dan meloncat-loncat di atas sofa dengan riang. Rambut panjangnya yang melebihi bahu terurai kesana kemari, dan pipinya yang tembam memerah senang.

Rein tahu, untuk mencapai puncak podium, sepertinya tidak mungkin bagi Jorge. Sekarang pria itu berada di posisi ke-5, dan gap-nya sekitar 4,3 detik dari pembalap di posisi pertama, Regis Guerrero. Jadi, paling banter ia akan menempati podium ke-3 karena jarak antara Jorge dengan pembalap di posisi ke-3 dan ke-4 hanya terpaut sekitar 0.4 detik—sangat dekat.

***

Keesokan harinya.

Hi, Daddy!!”

Suara seorang anak kecil memasuki telinga Jorge, ia menoleh ke sana kemari dan akhirnya menemukan Sabita di dekat salah satu pilar bandara sambil melambaikan tangannya senang. Tapi ia melihat sesuatu yang berbeda dari anaknya. Ia melihat Sabita berada dalam gendongan Rein. Ia tidak percaya ini hingga lututnya terasa sangat lemas meski ia tetap berjalan mendekat ke arah dua orang yang dikasihinya itu.

“Hai…” sapa Jorge yang masih terperangah, membuat kedua orang di depannya tergelak.

Sabita mencium pipi Jorge dan ‘berpindah tangan’ kepada ayahnya itu. “I love you, Daddy!”

I love you too, Pumpkin, jawab Jorge, lalu memandang Rein takjub, dan gadis itu hanya mengangkat bahu dan tersenyum penuh arti, seolah berkata ‘Ya, seperti yang kaulihat, kami jadi teman baik, meski aku tak terlalu tahu bagaimana aku bisa melakukannya’. “Maafkan Daddy karena tidak bisa naik podium kemarin. Daddy hanya bisa finis di posisi keempat,” kata Jorge sambil menempelkan pipinya pada pipi anaknya.

“Tidak apa-apa. Daddy membalap dengan sangat hebat!” Sabita memeluk leher ayahnya.

“Baiklah. Sudah malam. Sebaiknya kita segera pulang,” ujar Jorge, sambil merangkul pundak Rein dan menggiring gadis itu ke mobil.

***

Hoaaaahh!! Selamat pagi semua!” seru Rein lirih, sambil bergantian mencium kening Sabita dan Jorge yang tertidur di kamarnya.

Bita, I think you should skip school today, tanya Jorge nakal. “I don’t wanna wake up.”

My pleasure, Dad, jawab Sabita sambil tetap memejamkan mata dan memeluk Rein.

“Heeeii, kalian ini bicara apa?” tanya Rein. “Bita tidak boleh bolos sekolah!” katanya pada Sabita dan Jorge.

Hoaaahh…” Sabita dan Jorge menguap bersamaan dan mempererat pelukan mereka pada Rein.

“Dasar kalian nakal!” Rein tertawa. “Ayo bangun, para pemalas!”

“Aku senang ada yang memaksaku pergi sekolah,” celetuk Sabita, membuat Rein dan Jorge saling pandang. “It’s cool! Bisakah Aunty jadi ibuku saja, Daddy?” tanya Sabita polos.

Sure!” jawab Jorge cepat.

“Jorge! Kau bercanda!” pekik Rein. “Bita, aku tidak bisa menjadi ibumu.”

“Kenapa?” tanya Sabita dan Jorge—lagi-lagi—bersamaan.

Tenggorokan Rein tercekat. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menjadi ibunya? Aku mencintai Jorge. Aku menyayangi Bita. Kenapa aku tidak bisa? Karena Jorge tidak mencintaiku. Ya, karena Jorge tidak mencintaiku.

“Kaubisa jadi ibuku. Aku menyayangimu. Kau menyayangiku juga ‘kan, Aunty? So what’s the big deal?” tanya Sabita parau.

Oh, Sayang, itu saja tidak cukup… Batin Rein perih.

“Bita menyayangimu dan kau menyayanginya. Kau bisa jadi ibunya,” kata Jorge dengan nada memohon, seolah ingin Rein mengakui pernyataan itu.

Benar, kami saling menyayangi. Tapi apa gunanya jika kau tidak mencintaiku? Apakah akan ada artinya? “Hentikan ini.” Rein menyibakkan selimut dan segera pergi ke kamar mandi sambil berkata “Bita, cepat bersiap. Aku akan berada di dapur beberapa menit lagi untuk membuat sarapan. Jorge, panaskan mesin mobilmu sekarang.”

“Cepat, Sayang. Kau harus mandi,” kata Jorge pada Sabita, tepat setelah Rein menutup pintu kamar mandinya. “Semalam kau sudah menyiapkan buku-bukumu bukan?”

Sabita mengangguk, lalu melompat dari tempat tidur Rein, pergi ke kamarnya sendiri.

***

Sabita menginginkan Rein menjadi ibunya. Tapi untuk apa ia menjadi ibu Sabita jika Jorge tidak mencintainya? Kapan ia dapat menjadi hal berarti bagi Jorge? Pria itu tidak menginginkannya. Sedih rasanya ketika tahu bahwa orang yang kaucintai tidak memiliki perasaan yang sama. Sampai kapan Rein harus menghadapi kenyataan ini? Kalau saja bisa, ia ingin mencabut perasaannya pada pria itu sampai ke akar-akarnya dan membuangnya jauh-jauh. Tapi ia terlalu mencintainya… ia tidak bisa… dan Rein menangisi kelemahannya itu…

“Kau tidak berniat buang air, Rein,” kata Jorge dari balik pintu kamar mandi yang terkunci. Pria itu tidak memanaskan mesin mobilnya. “Keluarlah.”

“Aku sedang kebelet nih! Yang benar saja!” jawab Rein berbohong. Padahal ia sedang duduk di tepi bathtub dan tidak melakukan apapun kecuali berpikir tentang perasaan Jorge padanya.

“Aku tahu kau tidak sedang buang air!” Jorge balik berseru.

“Tahu darimana?!” Rein membenci suaranya yang parau dan bergetar.

“Kau hanya menghindar dariku!”

“Persetan!”

“Aku akan di sini sampai kau mau keluar!”

Emosi Rein telah meledak. Jorge pria yang sangat menyebalkan, bahkan sejak ketika mereka masih kecil. Tapi bagaimana bisa pria ini memenuhi hatinya? Memenuhi otaknya? “Dengarkan aku, Jorge! Kau harus memanaskan mesin mobil atau mobilmu tidak akan bisa dihidupkan dan membuat anakmu terlambat datang ke sekolah!”

“Sialan!”

Rein mendengar pintu kamarnya dibanting dengan keras. Jorge marah besar. Rein tahu itu. Tapi setidaknya pria itu sudah keluar dari kamarnya. Oh, akhirnya dia pergi juga dari kamarku. Rein menghela napas, mencoba menenangkan diri, lalu keluar dari kamar mandi.

“Kau menangis.”

Rein terkaget setengah mati ketika mendapati Jorge berdiri menghalangi pintu kamarnya yang tertutup. “Jangan mendekat.” Suara Rein nyaris tercekat ketika pria itu mencoba berjalan ke arahnya.

“Katakan apa salahku.”

“Kau tidak salah apa-apa.” Rein berkelit.

“Ayolah, pasti ada sesuatu. Salah satu perkataanku—atau perkataan Bita pasti telah menyakitimu.”

“Tidak.”

“Aku mengenalmu, Rein.” Jorge mengguncang bahu Rein dengan lembut.

“Tidak. Kau tidak benar-benar mengenalku.” Air mata Rein mengalir deras di pipinya. Kalau Jorge benar-benar mengenalnya, ia pasti tahu bagaimana perasaan Rein padanya.

“Aku benar-benar telah menyakitimu, meski aku tak tahu apa yang telah kulakukan. Aku minta maaf.”

Kali ini, kata maaf sangatlah tidak berarti bagi Rein. Yang ia inginkan bukanlah kata maaf.

“Katakan kau memaafkanku.” Jorge mengangkat dagu Rein dan menatap kedua mata yang basah itu lurus-lurus.

“Hentikan, Jorge,” pinta Rein. Ia benci karena ia semakin tidak bisa mengendalikan tangisnya.

“Sayang, kau membuatku cemas.” Jorge mendekatkan wajahnya, dan mencium bibir Rein dengan lembut.

“Jorge…” desah Rein di tengah ciuman pria itu. “Pintunya…”

“Bita takkan bisa masuk. Sudah kukunci,” jawab Jorge lalu melanjutkan ciumannya pada Rein.

Ya Tuhan. Mimpi apa Rein semalam?

“Kau cantik,” gumam Jorge setelah selesai mencium Rein, sambil menghapus air mata gadis itu. “Kau baik. Kau lembut. Well, meskipun kadang agak kasar sih…” Jorge tertawa ringan. “Itu sebabnya Bita ingin kau jadi ibunya.”

“Jorge—“

“Tapi aku tahu itu bukan kata-kata yang ingin kaudengar,” Potong Jorge sebelum Rein memprotes. “Coba tebak, apa yang sedang kupikirkan?” kedua tangan Jorge meluncur ke pinggang Rein yang ramping, mengayun-ayunkan gadis itu dengan sayang.

“Aku tidak tahu.”

“Aku mencintaimu.”

Rein tidak mampu berkata-kata, ia menatap wajah Jorge lurus-lurus, mencari kebenaran di sana, sekaligus memeriksa kebohongan di sana. Tidak, Rein tidak bisa menemukan kebohongan itu. Apa Jorge jujur saat mengatakannya? Apakah pria itu benar-benar mencintainya? Tidak, ia tidak percaya. “Kau tidak mencintaiku. Kau bercanda.” Rein berusaha melepas lengan Jorge yang melingkar di tubuhnya, tapi tidak berhasil. Pria itu begitu kuat.

“Kau punya bukti apa hingga kau berani berkata bahwa aku tidak sungguh-sungguh?”

“Kau sendiri punya bukti apa bahwa kau memang benar mencintaiku?” tanya Rein jengkel.

“Aku menciummu. Aku menginginkanmu menjadi ibu dari anakku. Dan aku mempertaruhkan harga diriku sendiri dengan mengatakan apa isi hatiku padamu. Apa itu bukan bukti kuat bahwa aku memang mencintaimu?” Jorge balik bertanya. “Perlukah aku mengatakannya beribu-ribu kali padamu? Bukankah itu sangat percuma bila kau selalu menyangkalnya? Kapan kau akan mempercayai kata-kataku? Mempercayaiku?”

Rein tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia luluh dalam pelukan pria yang dicintainya sejak kanak-kanak itu. Ia tak percaya bahwa ini akhirnya terjadi padanya. Ini adalah saat-saat yang ia tunggu, saat-saat yang diimpikannya sejak lama. “Jadi kau sungguh-sungguh?” tanyanya parau dalam pelukan Jorge.

“Ya, aku sungguh-sungguh, dan aku tidak tahu cara lain untuk meyakinkanmu,” jawab Jorge. “Berhentilah menangis, Rein.” Pria itu merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Rein sekali lagi. “Sekarang giliranmu.”

“Giliran apa?”

“Mengatakannya,” kata Jorge sambil tersenyum. “Aku perlu diyakinkan.”

Rein tersenyum malu di tengah tangisannya. “Aku juga mencintaimu.”

“Oh, sekarang aku sangat lega.” Jorge memeluk Rein kembali, mengayun-ayunkan gadis itu dengan sayang. “Kau bersedia menjadi istriku, bukan?”

“Ya, aku sangat bersedia,” jawab Rein.

“Baiklah, kita harus membeli cincin selagi Bita sekolah. Setelahnya kita akan menjemputnya bersama siang nanti,” ujar Jorge. “Sekarang, kita temui Bita di kamarnya dan mengatakan apa yang sudah menjadi keputusan kita.” Pria itu mencium Rein sekali lagi, dan menggiring gadis itu menuju kamar anaknya.

Sesampainya mereka di kamar bersuasana merah muda itu, mereka menemukan wajah Sabita yang terkejut karena melihat wajah Rein yang sembab dan merah. “Aunty, apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja, Bita.” Rein menghampiri Sabita yang berdiri mematung di depan lemari bajunya, membantu gadis itu memakai mantel musim dinginnya.

“Ia hanya terharu,” sahut Jorge, berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi. “Ia begitu senang karena kau memintanya untuk menjadi ibumu. Daddy mencintainya, dan ia mencintai Daddy. Kami berdua juga mencintaimu, Bita. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membangun sebuah keluarga yang utuh.”

“Apa?” teriak Sabita tak percaya. “Jadi Aunty benar-benar akan menjadi ibuku?” Gadis cilik itu memandang Rein dan Jorge bergantian. “Benarkah?” Ia mendapatkan anggukan kepala dari ayahnya. “Oh, aku senang sekali!” serunya. “Apa aku boleh memelukmu, Mommy Rein?”

“Tentu saja,” jawab Rein, lalu memberi pelukan erat pada Sabita.

“Aku menyayangimu, Mommy,” bisik Sabita.

“Aku juga menyayangimu.” Rein balik berbisik.

Namun tiba-tiba Sabita melepaskan pelukannya, dan sekali lagi memandang kedua orang dewasa di hadapannya bergantian. “Boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?”

“Apa aku boleh melihat kalian saling berciuman?” tanya Sabita polos.

“Oh!” seru Jorge salah tingkah, sedangkan Rein tertawa ringan. “Tidak. Usiamu belum delapan belas tahun, Sayang. Kau tidak boleh melihat adegan semacam itu,” ujar pria itu pada Sabita.

“Tapi kumohon, Daddy. Aku ingin melihat kalian berciuman. Kumohon, kumohon, kumohon!” Sabita meloncat-loncat sambil merengek, seolah ia akan menangis jika permintaannya tidak dituruti.

Jorge memutar bola matanya dengan jengkel, namun mendekati Rein yang berjongkok di depan Sabita, lalu mencium bibirnya lembut. “Sudah puas, Anak Kecil?” tanya Jorge pada anaknya.

Sabita menloncat-loncat lagi, kali ini karena kegirangan. “Yaaaaayyy!! Aku sangat senang!! Aku menyayangi kaliaaann!!” Sabita menghambur memeluk Rein dan Jorge sekaligus, dan mencium pipi keduanya dengan gemas. “Oke, jadi kapan aku punya adik?”

Rein dan Jorge saling bertukar pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.

-the end-

Hahaha. Cerita ini gue dedikasikan buat teman gue yang bernama Ninda, dengan akun Twitter ber-username @reineenn.

Dia ini penggemar berat Jorge Lorenzo, juara dunia MotoGP 2010.

Suatu hari, dia pernah request ke gue untuk dibikinin cerita dengan tokoh utama bernama Rein dan Jojo (panggilan sayang dari Ninda buat Jorge).

Waktu dia request, kebetulan otak gue lagi buntu, jadinya nggak tau mau nulis cerita apa buat dia. Jadi, gue obok-obok aja folder cerita-cerita iseng gue, kali aja ada stok cerita yang bisa dipublikasi dengan tokoh utama bernama Rein dan Jojo.

Akhirnya nemu juga. Hehehe.

Ide cerita ini sebenernya udah gue tulis sejak lama, terinspirasi oleh Nicky Hayden tepatnya, juara dunia MotoGP 2006.

Tapi berhubung cerita ini pendek dan nggak berkelanjutan, akhirnya gue memodifikasi cerita ini, dengan membayangkan Ninda dan Jojo sebagai tokoh utama.

Nah, sebenernya, gue pengen pake nama Jojo sebagai tokoh utama pria disini. Tapi lama-lama gue mikir : Di sini ‘kan tokoh utama pria udah punya anak, jadi kalo namanya Jojo kok kesannya jadi terlalu kiyut (cute). Dan takutnya pembaca salah paham dan mengira bahwa tokoh utama pria di sini terinspirasi oleh @jojosuherman (Joshua Suherman, mantan penyanyi cilik itu lho). Hahaha. Nggak ding, alasan yang nomer 2 itu becanda doang kok.

Nah, biar kesannya gahar, gue memutuskan tetep pake nama Jorge. Biar berasa Spanyolnya (apa dah).

Jadi, maapkan aku, Cekgu (panggilan Ninda di dunia Twitter), kalo aku tidak memenuhi request-mu dengan pemakaian nama ‘Jojo’. Hehehe.

Yah, begitulah.

Semoga cerita ini bisa dinikmati para pembaca pada umumnya, dan Ninda pada khususnya. :)

Ciao!

-Kanya-

Advertisements

3 thoughts on “¡Hola, Mallorca!

  1. kyaaaaaaa…i love it..i love it…i love it…thank u so much nyangggg… ;)
    Ntar komen2 lebih lanjut di twitter aja.. :))
    *cubit*

    -Mrs. Rein Lorenzo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s