Splash

Masa Lalu

“Selamat ulang tahun,” bisik Tarra yang menengadah, memandangi Cag yang sedang memeluknya. “Aku belum memberimu ucapan.”

“Keberadaanmu disini sudah mewakili itu,” Cag mendengar Tarra mendesah keras, sepertinya gadis itu kesal. “Aku tidak sedang merayumu, Tee. ‘Kan memang kenyataannya begitu. Kau tidak akan jauh-jauh kemari kalau bukan karena ulang tahunku.”

“Iya, aku kemari karena hari ini ulang tahunmu.”
“Kau pernah disakiti, Tarra?”
“Tidak.”
“Kau menjawabnya dengan cepat. Kau bohong. Seseorang pernah menyakitimu.”

Tarra mempererat pelukan Cag, mencari kehangatan dan pegangan seolah ia akan terjatuh. “Aku pernah mengenal seorang laki-laki. Dia teman sekolahku. Kami bersahabat sejak usia kami empat belas tahun. Aku menyukainya, dialah orang pertama yang selalu ingin kutemui ketika aku merasa sedih ataupun senang. Aku ingin kami berbagi segalanya. Dia playboy,” Tarra mendengus.

“Saat itu aku tahu ia memiliki tiga belas mantan pacar terhitung sejak ia masih berusia sembilan tahun. Tapi begitulah cinta, tumbuh jika kau merasa cocok dengan lawan jenismu. Kami tumbuh bersama, Cag. Dia memberiku banyak harapan. Dia mengajakku kencan, menghabiskan waktu bersama.

“Tapi ia terus begitu, memberiku harapan. Ia pernah bilang ia mencintaiku padahal kami sama-sama tahu bahwa ia sedang bersama gadis lain. Ketika hubungan mereka berakhir, ia kembali mendekatiku. Lalu ia mendapatkan gadis lain, tapi dia masih memberiku harapan. Aku cukup tahu diri, meski bilang ia mencintaiku, aku takkan membiarkannya menjalin hubungan denganku selama ia masih memiliki kekasih. Hal seperti itu terulang terus menerus sampai kami berusia sembilan belas tahun.

“Aku bodoh, Cag. Aku naif. Aku tolol. Suatu saat aku merenung, dan aku serasa ditampar. Aku menanyakan dimana harga diriku. Apakah sudah habis? Bagaimana aku bisa mencintai seseorang yang hanya mempermainkan perasaanku? Membuatku terbang lalu menjatuhkanku kembali. Suatu hari ia datang ke rumahku, sepertinya ia punya firasat. Ia datang dengan membawa semua barang yang pernah ia pinjam, seperti buku, DVD, CD musik. Tak satupun barangku yang tersisa di rumahnya. Ia mengembalikan semuanya.

“Aku membiarkannya bicara lebih dulu, mengatakan apa yang ingin ia katakan malam itu. Ia bilang ia merindukanku setelah berminggu-minggu tidak bertemu. Ia menceritakan pengalamannya menonton konser Black Sabbath. Ia bercerita bahwa ia baru saja bertemu dengan teman-teman lama kami beberapa hari sebelumnya.

Ketika aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya aku angkat bicara. Aku ingin ketegasan dalam hubungan kami. Kalau ia menginginkanku ia tinggal bilang ‘ya’, kalau tidak, ya sudah katakan ‘tidak’. Sebagai seorang laki-laki mestinya ia bersikap jantan dan tegas. Tapi ini sebaliknya. Aku yang meminta ketegasan dan akhirnya akulah yang memberi ketegasan.

“Aku bilang aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Kami memang sahabat, tapi rasa yang tumbuh di antara kami sudah berbeda dan itulah yang membuatku tak tahan lagi. Semua itu hanya bisa menyakitiku. Iya atau tidak sama sekali, memasuki hidupku atau pergi saja.

“Setelahnya aku pernah beberapa kali jatuh cinta, walaupun aku tidak yakin apakah itu memang bisa dibilang ‘jatuh cinta’. Yang jelas, aku pernah tertarik pada beberapa pria, tapi aku tidak pernah merasa pria-pria itu adalah Mr. Right Guy untukku. Mereka hanya bisa membual dan membual. Memberiku harapan kosong. Menerbangkanku dan kemudian menjatuhkanku.”

“Masalah percintaan yang rumit ya?” tanya Cag, mengelus punggung Tarra dengan sayang. “Aku tidak tahu bagaimana cara menanggapinya, tapi semoga kau mendapatkan yang terbaik di kemudian hari. Seorang pria yang mencintaimu, memperlakukanmu dengan gentle, yang ingin menjadi ayah dari anak-anakmu, mencintai mereka, selalu ada di sampingmu ketika kau senang ataupun sedih, mendampingimu sampai maut memisahkan.”

Air mata Tarra menetes. Ia begitu terharu mendengar kata-kata Cag. Ia memang menginginkan semua itu. Selama Cag bicara, ia membayangkan rumah mungil penuh bunga di halamannya, anak-anak Tarra yang menggemaskan bergurau dan berlarian antara padang ilalang… bersama Cag. Ia teringat pria itu menyukai anak-anak, dan sepertinya akan sangat menyenangkan melihat Cag tertawa di antara anak-anak Tarra yang berambut ikal pirang dan berpipi merah.

“Menangislah kalau kauingin menangis. Aku akan berada di sini, bersamamu.”

Suara Cag membuyarkan khayalan Tarra, tapi semakin menguatkan perasaannya pada pria itu. ‘Aku akan berada di sini bersamamu’ terdengar bagaikan sebuah janji. Tarra benar-benar ketakutan menghadapi kemungkinan Cag mengingkari janji itu. Ia semakin mempererat pelukannya, seolah tak mau Cag pergi.

“Jangan cemas. Aku tidak akan mengingkari janjiku.”

Sekali lagi Tarra merasa hatinya tersayat. Itu memang sebuah janji, ternyata. Semakin Cag mempertegas bahwa itu adalah sebuah janji, makin besar ketakutan Tarra jika Cag meninggalkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s