Splash

Proposal

Aku bersamanya. Ya, bersamanya. Tangannya melingkar di pinggangku. Tubuhnya, melekat pada tubuhku. Jari-jarinya menelusuri rahangku, sudut belakang daun telingaku, menggodaku untuk terus mendekat dan mendekat lagi.

Bibirnya… bibirnya bersatu dengan bibirku. Aku merasakan mint yang ditinggalkan permen karet kesukaannya. Bibirnya mendesakku, tiada henti.

Aku tidak setinggi itu, jadi ia sedikit menggendongku agar sejajar dengannya.

Air hujan membasahi kami. Langit mendung mengelilingi kami. Angin kencang yang seharusnya membekukan tulang-tulang kami, tak ada artinya karena kami saling menghangatkan. Aku suka cuaca ini. Aku selalu bermimpi dicium oleh orang yang kucintai di tengah hujan, di bawah langit kelam, dalam udara dingin yang menusuk hanya agar aku yakin betapa hangatnya ia.

“Aku mencintaimu,” desahnya. “Jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak sanggup.”

Napas hangatnya menerpa wajahku. Ya Tuhan, ini sangat romantis hingga aku ingin menangis. Pria inilah yang membuat semua mimpiku jadi nyata, semua mimpi-mimpiku sejak aku kecil.

Ia menurunkan tubuhku, sedikit menjauhkan wajahnya hanya agar ia dapat melihat wajahku lebih jelas. Ia tersenyum. Bulir-bulir air hujan membasahi wajahnya, aku ingin mengusap setetes air yang akan jatuh dari ujung hidungnya yang mancung. Sebelah tanganku tergerak melakukannya, namun ia menangkap tanganku, mencium telapakku, lalu membimbing tanganku untuk mengusap pipinya yang kasar karena bakal cambang.

Ia tidak melepaskan tanganku, meski ia menurunkannya dari wajah. Ia berlutut, sekali lagi tersenyum padaku saat ia menengadah menatapku. Perutku mulas, teraduk-aduk. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu apa yang akan dilakukannya. Aku makin yakin ketika ia mencoba merogoh saku jaketnya.

“Aku hanya punya ini, setidaknya untuk saat ini,” katanya sambil menunjukkan sebuah benda hitam berbentuk lingkaran yang ia ambil dari saku jaket.

Itu cincin kesayangannya. Cincin hitam yang terbuat dari titanium. Ia tahu aku sangat suka melihatnya memakai cincin itu di jari manis tangan kirinya. “Aku tidak punya banyak waktu untuk mencari yang lebih baik daripada ini. Mungkin aku harus mencari penggantinya setelah kau menjawab ‘ya’.”

Aku tak sanggup bicara. Aku benar-benar tahu apa yang akan ia katakan. Aku bahkan sudah punya jawabannya sebelum ia mengucapkannya…

“Aku mencintaimu. Apakah kau mau menikah denganku?”

Aku tidak sanggup menjawab ‘ya’. Tenggorokanku tercekat, rahangku menegang. Ini sungguh saat-saat paling mendebarkan dalam hidupku. Tubuhku rasanya mati rasa. Kurasa aku tak sanggup melakukan apapun, namun aku berusaha menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Kau yakin?” tanyanya.
“Ya.”

Akhirnya suara itu keluar dari tenggorokanku dengan susah payah. Ya Tuhan, rasanya aku ingin pingsan…

“Boleh kupasangkan di jarimu?” tanyanya lagi, sambil sedikit mengangkat cincin hitam yang ia bawa itu.
“Tentu saja,” kataku yang masih limbung.

Ia memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiriku, sama persis dengan tempat dimana ia biasa memakainya. “Kebesaran,” ia tersenyum geli.

“Di ibu jariku dulu juga boleh,” aku ikut tertawa.
“Kalau aku sudah mendapatkan penggantinya, pasti akan terpasang di jari manismu, Sayang.”
“Ya ampun. Aku mencintaimu,” kataku nyaris tak bersuara.
“Aku juga. Aku juga sangat mencintaimu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s