Splash

Terkadang…

Terkadang, pelarian termanis adalah menuangkan imajinasimu ke dalam kata-kata.

Terutama ketika segalanya terlalu indah untuk jadi nyata…

dan ketika tak seorang pun percaya.

Advertisements
Splash

Frekuensi yang Sama

Urusan hati ini memang… sungguh melelahkan.

Saat pertama kali aku menyadari keberadaannya di sekitarku, rasa-rasanya kami berada di frekuensi yang sama. Gelombang yang kami lepas, bersambut satu sama lain.

Bahkan, aku sempat meyakini dan menyebutnya ‘jiwa menyentuh jiwa’, karena semua tampak berjalan mulus dan terasa indah.

Tapi ternyata tidak demikian adanya.

Frekuensi dan gelombang itu hanyalah khayalanku belaka, fiktif, dan memang inginku saja itu terjadi. Nyatanya, kami tak saling bersambut, dan itulah bagian paling menyedihkan dari cintaku.

Kadang rasanya aku jengkel setengah mati, ingin berteriak di hadapan wajahnya, “Kenapa kau tak mencintaiku saja, brengsek?!” Tapi aku paham bahwa aku takkan pernah bisa mengendalikan hatinya. Bukan salahnya bila cinta ini tak berbalas.

Orang lain mudah saja bilang, “Lupakan dia. Cari yang lain.” Rasa-rasanya mereka sama brengseknya dengan pria yang tak membalas cintaku itu. Tidakkah mereka mengerti? Aku mencintainya dan aku hanya ingin dia.

Splash

28 Desember

28 Desember waktu itu,
hampir saja air mata membanjir

Aku takut tak bertemu kamu lagi

Yang lebih menakutkan,
aku tak tahu ke mana kamu akan pergi

Aku takut tak dengar kabarmu lagi

Kamu bilang, “Jangan sedih. Kita masih bisa bertemu lagi.”

Setahun berlalu,
nyatanya kamu benar masih di sini

Diawali sapaan ceria dalam pertemuan tak terduga di kedai kopi
Dilanjutkan angin sepoi, debur ombak dan sengatan matahari di pantai
Berikut cokelat panas dan sepotong roti cokelat hangat di kedai kopi yang satu lagi
dan perjumpaan di bioskop untuk menonton film-film favorit

Tahun depan, kuingin lebih sering begini

Tahun depannya lagi, kalau bisa

Selamanya, kalau bisa

Thoughts

Pelajaran Hari Ini

Pelajaran hari ini adalah,

Kamu tak akan pernah bisa memilih kepada siapa kamu jatuh cinta

Tapi orang lain akan menghakimi siapa yang pantas atau tidak menjadi separuh jiwamu

Tragis.

Tapi, pelajaran lainnya adalah,

Sekeras apapun kamu berusaha melarang ‘siapa’ jatuh cinta kepada ‘siapa’,
kamu takkan pernah bisa berhasil,
karena hanya Tuhan yang bisa

Itulah yang kupercaya

Thoughts

‘Senna’ ― Dokumenter Menusuk

Pertama kali denger nama ‘Senna’, saya inget banget waktu itu masih duduk di bangku TK. Senna adalah salah satu temen saya, dan beberapa tahun kemudian, ibu saya nyeletuk, “Orang tuanya Senna pasti ngefans sama Ayrton Senna deh. Makanya dia dikasih nama Senna.”

“Ayrton Senna iki sopo?” pikir saya waktu itu.

Beberapa tahun kemudian (lagi), ketika saya mulai menggemari dunia balap, barulah saya tahu siapa sebenernya Ayrton Senna ini. Ayrton Senna merupakan tiga kali juara dunia Formula 1, yakni pada tahun 1988, 1990 dan 1991. Senna dikenal sebagai salah satu pembalap F1 terbaik dalam sejarah, yang sayang nyawanya melayang dalam balapan di Sirkuit Imola, Italia pada tahun 1994.

Kalo ngomongin Senna, banyak banget pembalap-pembalap F1 masa kini yang mengaku sangat mengidolakan Senna. Ga hanya talenta hebat di lintasan aja yang bikin orang kagum, melainkan juga karakternya yang kuat… dan rendah hati. Senna dikenal sebagai pembalap yang sangat membenci politik; salah satu dari sekian pembalap yang menyadari adanya permainan licik dalam F1 pada masanya, dan dengan tegas melawannya. Continue reading “‘Senna’ ― Dokumenter Menusuk”